Kereta api (KA) merupakan moda transportasi massal. Sarana transporstasi yang satu ini bisa mengangkut ratusan orang dalam sekali jalan. Di komunitas kita, ada dua stasiun yang menjadi pemberhentian kereta api, yakni Stasiun KA Serpong dan Rawa Buntu.
Stasiun kereta api adalah tempat di mana para penumpang dapat naik-turun dalam memakai sarana transportasi kereta api. Selain stasiun, pada masa lalu dikenal juga dengan halte kereta api yang memiliki fungsi nyaris sama dengan stasiun kereta api.
Stasiun kereta api umumnya terdiri atas tempat penjualan tiket, peron atau ruang tunggu, ruang kepala stasiun, dan ruang PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) beserta peralatannya, seperti sinyal, wesel (alat pemindah jalur), telepon, telegraf, dan lain sebagainya.
Stasiun besar biasanya diberi perlengkapan yang lebih banyak daripada stasiun kecil untuk menunjang kenyamanan penumpang maupun calon penumpang kereta api, seperti ruang tunggu, restoran, toilet, mushalla, area parkir, sarana keamanan (polisi khusus kereta api), sarana komunikasi, depo lokomotif, dan sarana pengisian bahan bakar.
Pada umumnya, stasiun kecil memiliki tiga jalur rel kereta api yang menyatu pada ujung-ujungnya. Penyatuan jalur-jalur tersebut diatur dengan alat pemindah jalur yang dikendalikan dari ruang PPKA. Selain sebagai tempat pemberhentian kereta api, stasiun juga berfungsi bila terjadi persimpangan antar kereta api sementara jalur lainnya digunakan untuk keperluan cadangan dan langsir. Pada stasiun besar, umumnya memiliki lebih dari 4 jalur yang juga berguna untuk keperluan langsir.
Bagi warga komunitas kita yang akrab dengan kereta api, tentu tak akan asing jika mendengar nama Stasiun KA Rawa Buntu. Stasiun ini dekat dengan kawasan BSD. Secara geografis Stasiun KA Rawa Buntu berada di wilayah pemerintahan Kecamatan Serpong, dan terletak di antara Stasiun Sudimara dan Serpong.
Beberapa tahun lalu, Stasiun KA Rawa Buntu tampil mengenaskan. Bangunan seadanya. Calon penumpang yang menunggu kereta api akan merasa panas ketika matahari terik menyinari, dan akan basah manakala hujan turun.
Satu tahun terakhi, pembenahan sudah nampak di Stasiun KA Rawa Buntu. Penampilan fisiknya jauh lebih baik. Bangunan stasiun tampak baru. Selain itu, sekitar stasiun ada areal parkir kendaraan, yang lebih tertib lokasi dan pengelolaannya.
“Stasiun KA Rawa Buntu sekarang jauh lebih baik dan lebih rapi. Kalau seperti ini, pengguna kereta api tentu akan semakin nyaman,” kata Firman, salah seorang calon penumpang kereta api.
Bagi warga sekitar BSD, Melati Mas, Alam Sutera, atau Gading Serpong, akan lebih baik naik kereta dari Stasiun KA Rawa Buntu ini. Pasalnya, bicara soal jarak, Stasiun KA Rawa Buntu lebih dekat dari keempat daerah tadi, ketimbang Stasiun KA Serpong, yang lokasinya berada di dekat Pasar Serpong.
Dari segi bangunan maupun luas stasiun, Staisun KA Rawa Buntu memang kalah dengan Stasiun KA Serpong, pun begitu, kereta api yang menuju Jakarta juga tetap akan melalui stasiun ini.
“Saya lebih suka naik kereta dari stasiun ini, soalnya lebih dekat dari rumah,” kata Andi, seorang mahasiswa yang setiap hari naik kereta untuk pergi ke kampusnya.
Bicara soal fasilitas, seperti tempat umum yang lain, Stasiun KA Rawa Buntu juga punya kamar mandi umum, kantin, tempat ibadah, dan area parkir. Khusus mengenai tempat jajan,di stasiun ini juga tersedia banyak ragam makanan, mau yang berat atau ringan, semuanya ada.
Senin
Stasiun Rawa Buntu, Serpong - Yang Setia Menunggu Kereta
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
11.05
0
komentar
Label: Khas
Rabu
Sekolah Catur, Menanti Pengganti Utut Adianto
Catur mempunyai manfaat yang dahsyat dan murah karena bisa dipelajari sendiri. Ketika bermain catur seorang anak akan menganalisis, mengasah logika dan belajar mengambil keputusan di mana ilmu tersebut sangat berguna bagi kehidupan dan tidak diajarkan di sekolah.
Manfaat catur untuk meningkatkan IQ, kreativitas dan rasa percaya diri anak ternyata sudah diteliti, jadi kebenarannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Masyarakat, Percasi dan dunia pendidikan mungkin kurang memahami manfaat catur yang dahsyat ini. Bagi orang yang paham manfaat catur, maka permainan 64 petak yang bisa disebut ''alat peningkat IQ dan kreativitas'' ini bukan pilihan tetapi kewajiban.
Belajar catur adalah wajib bagi yang sadar pendidikan, bagaimana cara belajarnya itu pilihan. Ribuan orang belajar catur sendiri tanpa memakai guru, pun demikian hasilnya tentu akan jauh lebih efektif kalau menggunakan guru profesional.
Bicara tentang pendidikan catur di tanah air, boleh dibilang masih berjalan sangat lambat. Sekolah-sekolah catur yang ada, bisa dihitung dengan jari. Sekiranya, apa sebenarnya yang mendasari hal itu bisa terjadi?. Ir. Oentoro, Manager Pengembangan Cabang Sekolah Catur Utut Adianto menyebutkan, banyak masyarakat belum mengartikan catur sebagai suatu bidang yang profesional. Catur hanya dikenal sebagai kegiatan mengisi waktu luang.
”Catur memang belum terlalu populer di tanah air, apalagi jika bicara tentang pendidikan catur yang formal,” kata Oentoro menuturkan.
Meski demikian, Utut Adianto, seorang maestro catur nasional, turut peduli dengan permasalahan seperti tadi. Utut membangun dan mengembangkan catur di Indonesia melalui sekolah catur yang diberi nama Sekolag Catur Utut Adianto.
Yang terbaru, Sekolah Catur Utut Adianto hadir di komunitas BSD, tepatnya di bilangan Ruko Versailles, BSD. Di tempat ini, anak-anak mulai usia 4 sampai 17 tahun bisa belajar catur.
”Sakolah Catur Utut Adianto peduli dengan perkembangan catur nasional. Karena itu, dengan idealisme tersebut, kami hadir di BSD sejak Januari lalu. Dengan demikian, diharapkan potensi-potensi generasi catur baru bisa didapat dari BSD dan sekitarnya,” kata Oentoro lagi.
Sementara itu, Branch Manager Sekolah Catur Utut Adianto BSD, Khristi Yulianto menegaskan, Sekolah Catur Utut Adianto hadir guna memfasilitasi para peminat catur, khususnya anak-anak untuk dapat memperlajari catur dengan baik.
Di Sekolah Catur Utut Adianto BSD ini, para muridnya akan diajarkan teori dan teknik catur yang baik dan benar. Lebih dari itu, ada tiga hal mendasar yang akan dipelajari siswa, yakni pemikiran yang sistematis, taktis, dan strategis.
”Selain teknik dan teori, kami juga melatih sikap dan mental anak-anak melalui berbagai pertandingan. Catur sendiri sebenarnya bukan sekedar permainan atau olahraga, tapi lebih tepat disebut sebagai sebuah cara untuk membangun pola pikir,” pungkas Khristi.
Program belajar catur di Sakolah Catur Utut Adianto disediakan dalam 3 pilihan program, yakni reguler, privat, dan semi privat. Untuk kelas reguler, satu kelasnya maksimal diikuti 8 siswa. Kegiatan belajar dilangsungkan seminggu sekali dengan durasi 90 menit.
Untuk jangka panjang, bagi siswa yang berprestasi, Sekolah Catur Utut Adianto memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk mengikuti berbagai kejuaraan catur, baik tingkat nasional maupun internasional.
Dengan hadir Sekolah Catur Utut Adianto di komunitas BSD ini, diharapkan dapat melahirkan generasi catur baru yang dapat berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Lebih dari itu, Sekolah Catur Utut Adianto juga berupaya untuk menempatkan catur pada posisi yang semestianya di hati masyarakat.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.37
0
komentar
Label: Khas
Minggu
d’ Relax, Sejenak Mendekap Alam
Mengunjungi tempat yang satu ini, kita akan diajak bernostalgia dengan suasana pedesaan yang rindang dan alami. Hamparan rumput hijau dan lebatnya daun-daun pepohonan, kian membuat udara di sekitar terasa sejuk.
Memasuki halaman d’ Relax, gemercik air dari kolam-kolam ikan akan langusng terdengar. Gerak gemulai dari ikan-ikan yang ada didalamnya, serasa menenangkan hati, dan mampu membuat kita melupakan sejenak beragam aktivitas yang melelahkan.
Kesan natural begitu kental terasa di d’ Relax ini. Tak hanya rumput dan pepohonan yang menjadikannya terlihat makin alami tapi juga bangunan-bangunan yang ada di tempat ini.
Seluruh bangunan yang ada di d” Relax beratapkan daun kelapa atau rumbai-rumbai. Sementara dinding bangunannya, hanya berbalut bata merah tanah, tanpa dihaluskan ataupun dicat. Lebih dari itu, ketika berada di dalam lokasi d’ Relax, pengunjung akan disuguhkan dengan musik-musik tradisional khas nusantara yang lembut, yang mampu menghanyutkan kita ke alam pedesaan.
”Kami memang sengaja menghadirkan konsep terbuka, yang dekat dengan alam. Kami ingin pengunjung yang datang dapat merasa nyaman dan benar-benar merelakskan diri, kata Pimpinan d’ Relax, E. Melanie Anthonius.
d’ Relax, lanjut Melanie, memang sebisa mungkin menghindari penggunaan teknologi. Pun demikian, untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu seperti pendingin udara, kloset toilet, dan peralatan salon, mau tidak mau harus menggunakan peralatan terkini. ”Kesan alami benar-benar ingin kami ciptakan. Tidak hanya untuk taman dan bangunan, tapi juga untuk peralatan yang kami gunakan,” ujarnya.
Manjakan diri
Sesungguhnya, d’ Relax yang berlokasi di Permata Sport Club, Lippo Karawaci ini sendiri merupakan tempat untuk menenangkan sekaligus memanjakan diri dengan berbagai perawatan tubuh, seperti spa, massage, dan salon. Semua layanan ini berkumpul di satu lokasi yang serba asri.
Dari ketiga layanan yang disediakan itu, masing-masing memiliki menu-menu tersendiri. Untuk spa, tersedia green tea rite spa, chocolate rite spa, coffee rite spa. Sedangkan untuk massage, tersedia menu Javanese massage, hot stone massage, face and body acupressure, serta health and relax reflexology. Dan untuk layanan salon, tersedia menu apple creambath, coloring and blow, manicure pedicure, serta ear therapy candle.
Lebih jauh Melanie menjelaskan, aneka layanan relaksasi tersebut ditujukan untuk semua kalangan, terutama konsumen keluarga. Di d’ Relax, konsumen keluarga yang datang beserta anak-anaknya, akan tenang melepas anak-anaknya untuk bermain di sekitar taman yang telah disediakan. Lebih dari itu, d’ Relax juga telah menyediakan ruang khusus untuk anak-anak beristirahat.
Sementara itu, untuk ruang treatmentnya, d’ Relax telah menyiapkan 8 ruang refleksi, 3 gazebo untuk spa, 4 ruang untuk massage, dan satu ruang salon. Kemudian, d’ Relax juga menyiapkan ruang khusus untuk teh, yang disebut Rumah Teh. Di Rumah Teh ini tersedia banyak pilihan minuman teh.
d’ Relax hadir dengan lokasi yang cukup luas. Secara keseluruhan, d’ Relax berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi. Dari total lahan ini, hampir 60 persennya digunakan untuk taman. Anda yang ingin berkunjung sekaligus memanjakan diri di d’ Relax ini, bisa datang setiap hari mulai pukul 10.00 – 20.30 WIB. Keasrian dan suasana pedesaan telah siap menanti kehadiran Anda.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
12.40
0
komentar
Label: Khas
Kamis
Situ Cipondoh - Dulu Rawa, Sekarang Tempat Wisata
Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang memiliki tempat wisata alami berupa danau atau situ. Danau tersebut bernama Situ Cipondoh dan berada tepat di depan Kantor Kecamatan Cipondoh, di bilangan Jl. KH. Hasyim Ashari.
Awalnya, menurut cerita warga setempat, danau alami yang luasnya lebih dari seratus hektar ini hanyalah rawa tak terurus, yang berbentuk cekungan besar serta ditutupi tanaman liar eceng gondok. Namun kini, Situ Cipondoh telah disulap Pemkot Tangerang menjadi kawasan wisata alami yang cukup indah dan murah meriah.
Utamanya, fungsi dari danau ini sendiri adalah sebagai pengendali banjir. Maklum, daerah sekitar danau tersebut termasuk dataran rendah. Pun demikian, fungsi ekonomi atau yang tepatnya manfaat ekonomi rupanya juga dimiliki oleh Situ Cipondoh. Selain sebagai tempat wisata, danau ini juga dijadikan lokasi pertambakan ikan air tawar.
Situ Cipondoh memang bernaung di bawah Pemkot Tangerang, namun pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat setempat. Setelah menjadi objek wisata, situ ini dikelola dan dilestarikan secara swadaya oleh warga.
Sementara itu, dari situ resmi Pemkot Tangerang disebutkan, secara geografis, Situ Cipondoh terletak di kawasan Kecamatan Cipondoh dan Kecamatan Pinang, Kota Tangerang dengan luas awal lebih kurang 170 hektar, yang terdiri dari perairan seluas 50 hektar dan 120 hektar berupa daratan. Batas wilayah situ di sebelah Utara dan Timur adalah Jl. KH. Hasyim Ashari, sebelah Barat adalah Perumahan Cipondoh Indah serta sebelah Selatan adalah jalan tol Jakarta-Merak.
Situ Cipondoh sejak dulu merupakan suatu kawasan yang secara fisik memiliki luas dan karakterisitik sebagai situ dan berfungsi hidrologis sebagai tandon air di wilayah Kecamatan Cipondoh, Kecamatan Pinang, dan sekitarnya, sekaligus juga sebagai reservoar.
Berdasarkan rencana tata ruang kota, untuk penataan wilayah perairan situ direncanakan sebagai kawasan konservasi, preservasi, serta kawasan rekreasi. Sedangkan wilayah daratannya direncanakan sebagai kawasan jalur hijau dan kawasan pemukiman.
Selain hamparan air yang cukup luas, tak banyak memang objek wisata lain yang dapat dinikmati di Situ Cipondoh. Pun demikian, di danau ini tersedia juga sarana rekreasi bebek terapung yang dikayuh, yang bisa membawa pengunjung berkeliling menyusuri danau.
Lebih dari itu, rindangnya pepohonan di sekitar situ juga cukup menyegarkan. Terlebih ketika siang hari, di saat matahari tepat di atas kepala. Pohon yang tinggi menjulang dengan dedaunan yang lebat serta angin semilir yang bertiup sepoi-sepoi seakan memberi rasa sejuk yang sangat luar biasa.
Diiringi gemercik air, pengunjung Situ Cipondoh juga dapat menikmati aneka hidangan lezat yang disediakan warung-warung makan di sekitar danau ini. Banyak pilihan makanan yang sajikan, ada nasi plus lauk pauk dan ada pula makanan ringan seperti siomay atau mie pangsit. Kemudian, supaya makin segar, tak ada salahnya mencopa dinginnya es buah atau es kelapa muda yang juga tersedia di sekitar danau ini. Rata-rata harga makanan dan minuman di sekitar danau ini tidaklah terlalu mahal, harganya masih termasuk wajar dan terbilang cukup terjangkau.
Pun demikian, bagi pengunjung yang datang tapi tak ingin jajan, bisa membawa makanan sendiri. Untuk tempat makannya, bisa memilih sendiri sesuka hati, mau di bawah pohon atau di bawah saung-saung yang telah disediakan.
Di hari-hari kerja, biasanya Situ Cipondoh tak terlalu ramai dikunjungi masarakat. Lain halnya jika di akhir pekan, tempat wisata air yang satu ini luar biasa ramainya. Selain area parkir yang penuh, sedikit kemacetan juga akan terjadi di jalan raya di dekat danau ini.
Situ Cipondoh merupakan salah satu tempat wisata alam kebanggaan milik warga Kota Tangerang. Sayangnya, pengelolaan atau penataan tempat wisata Situ Cipondoh terkesan masih seadanya dan sederhana. Padahal, jika digarap dengan lebih baik lagi, Situ Cipondoh memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi tempat wisata alami yang luar biasa menarik.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
18.07
0
komentar
Label: Khas
Selasa
Tangerang - Tugu dan Sungai Cisadane, Pembatas Kekuasaan
Nama Tangerang menurut sumber berita tidak tertulis berasal dari kata ‘Tangeran’. Kata Tangeran dalam bahasa Sunda berarti tanda. Pada masa kolonial, Tangeran di sini berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC.
Tangeran berlokasi di bagian barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung Jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Seperti disebutkan dalam situs banten.go.id, tugu tersebut dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa.
Kemudian kata Tangeran berubah menjadi ‘Tangerang’ disebabkan pengaruh ucapan dan dialek dari tentara kompeni yang berasal dari Makasar. Orang-orang Makasar tidak mengenal huruf mati, akhirnya kata Tangeran berubah menjadi Tangerang.
Menurut kajian buku Sejarah Kabupaten Tangerang yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang bekerja sama dengan LPPM Unis Tangerang, daerah Tangerang sejak dulu telah mengenal pemerintahan. Cerita pemerintahan ini telah berkembang di masyarakat. Cerita itu berawal dari tiga maulana yang diangkat oleh penguasa Banten pada waktu itu. Tiga maulana yang kemudian mendirikan kota Tangerang itu adalah Yudhanegara, Wangsakara dan Santika. Pangkat ketiga Maulana tersebut adalah Aria.
Pemerintahan kemaulanaan yang menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah di Tigaraksa, mendirikan benteng di sepanjang tepi Sungai Cisadane. Kata ‘Benteng’ ini kemudian menjadi sebutan Kota Tangerang. Dalam pertempuran melawan VOC, maulana ini berturut-turut gugur satu persatu. Dengan gugurnya para maulana, maka berakhirlah pemerintahan kemaulanaan di Tangerang. Masyarakat mengangap pemerintahan kemaulanaan ini sebagai cikal bakal pemerintahan di Tangerang.
Secara geogafis Kota Tangerang terletak pada posisi 106 36 - 106 42 Bujur Timur (BT) dan 6 6 - 6 Lintang Selatan (LS). Letak Kota Tangerang ini sangat strategis karena berada di antara Jakarta dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga ibukota negara.
Kabupaten Tangerang termasuk salah satu daerah tingkat dua yang menjadi bagian dari wilayah Propinsi Banten. Terletak pada posisi geografis cukup strategis. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Jakarta dan Kota Tangerang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Sedangkan di bagian barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang.
Berdasarkan wilayah pusat pertumbuhan, Kabupaten Tangerang dibagi menjadi tiga area, yaitu Serpong, Balaraja dan Tigaraksa, serta Teluknaga. Pusat Pertumbuhan Serpong meliputi enam kecamatan, yaitu Serpong, Ciputat, Pondok Aren, Legok dan Curug yang menjadi pusat pertumbuhan pemukiman.
Pusat Pertumbuhan Balaraja dan Tigaraksa. Berupa kawasan industri, pemukiman dan pusat pemerintahan. Meliputi delapan kecamatan, yaitu Balaraja, Rajeg, Pasar Kemis, Tigaraksa, Kresek, Cisaka, Cikupa, Kronjo, Jayanti, Jambe dan Panongan.
Pusat Pertumbuhan Teluknaga. Meliputi lima kecamatan, yaitu Teluknaga, Kosambi, Sepatan, Mauk, Pakuhaji, Kemiri dan Sukadiri. Diarahkan untuk pengembangan sektor pariwisata bahari dan alam, industri maritim, pelabuhan laut, perikanan dan pertambakan.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
13.59
0
komentar
Label: Khas
Sabtu
Sentra Tanaman Hias Graha Raya - Berburu Bunga di Tepi Jalan
Indonesia punya tanah yang subur. Apapun yang ditanam, pasti akan tumbuh dan berguna. Apalagi jika yang ditanam adalah tanaman hias. Selain menghasilan tanaman yang indah dan sedap dipandang, dari segi komersil, tanaman hias juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Mencari pedagang tanaman hias ataupun sentra-sentra penjualan tanaman hias di komunitas Serpong bukanlah perkara sulit. Dari sudut ke sudut, banyak pengusaha nursery yang hadir, menawarkan beragam tanaman indah penuh pesona.
Masyarakat awam yang kurang begitu mengerti dengan bisnis tanaman hias akan sedikit kaget jika disebutkan harga tanaman hias. Maklum, kebanyakan tanaman hias yang sudah jadi, harganya gila-gilaan, bisa sampai ratusan juta. Tak masuk akal memang, tapi bagi sedikit orang yang benar-benar hobi dengan tanaman hias, harga yang mahal bukanlah perkara penting.
Melintasi kawasan Graha Raya Bintaro, pemandangan yang serba hijau akan terlihat sejauh mata memandang. Rindangnya pepohohan makin membuat sejuk jalan raya yang satu ini.
Satu tempat yang juga menjadi sentra tanaman hias adalah Graha Raya Bintaro, atau yang tepatnya di jalan utama perumahan ini. Di sini, sepanjang jalan yang menghubungkan Pinang, Cileduk dengan Paku Jaya, Serpong, berjajar puluhan gerai tanaman hias. Beragam tanaman hias ditawarkan. Ada yang masih bibit dan ada pula tanaman hias yang sudah jadi, penuh dengan bunga-bunga. Selain menjual tanaman hias, tempat ini juga menyediakan bermacam tanaman buah.
Para pedagang tanaman hias yang ada membalut dirinya dengan dandanan yang rapi. Gerai-gerai mereka ditata sedemikian rupa, dengan desain yang nyaman serta apik. Tanaman hias yang dijual pun tersusun dengan indah. Melihat sekilas saja, keidahan dari tanaman itu sudah pasti akan terlihat.
Soal harga, harga tanaman hias di sentra tanaman hias Graha Raya rasanya sama saja dengan tempat lain. Ada yang mahal dan ada pula yang murah. Kuncinya, Anda yang datang harus pandai-pandai bermain harga alias tawar menawar. Jika Anda ‘pintar nawar’ bukan tak mungkin tanaman hias yang indah bisa Anda bawa pulang dengan harga yang murah.
Selain tanaman hias dan buah, sentra tanaman hias Graha Raya juga menawarkan produk lain, yaitu pernak-pernik taman beserta jasa pembuatannya. Di sini, Anda dapat menemukan aneka relief taman, yang kebanyakan berbentuk pemandangan alam seperti air terjun dan pegunungan. Kemudian, ada juga bermacam patung dan arca yang bisa di tempatkan di pekarangan rumah.
Berburu tanaman hias di Graha Raya dijamin tidak akan membosankan. Jika tidak sreg dengan satu tempat, Anda bisa pindah ke tempat yang lain. Pun demikian, jika hanya ingin sekedar mencuci mata, datang ke sentra penjualan tanaman hias ini juga tak ada salahnya. Sekedar melihat-lihat dan menikmati bermacam tanaman yang indah akan membuat suasana hati jadi lebih baik.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.15
0
komentar
Label: Khas
Kamis
Rumah Durian Harum, Selalu Manis
Bila sudah suka, apa pun akan dilakukan. Sama halnya dengan penyuka Durian. Di mana pun akan dicari tempat penjualannya, meski harus ke pelosok-pelosok desa.
Banyak masyarakat yang mengharapkan bisa mendapatkan rumah makan durian yang bukan hanya menjual buah-buahan berduri saja, tapi juga pelayanan yang memuaskan. Dengan alasan itulah, Rumah Durian Harum didirikan.
Dijelaskan Kepala Cabang Rumah Durian Harum, Mohamad Somadi, sejak didirikan bulan April lalu, tempatnya banyak mendapat sambutan positif dari masyarakat, terutama mereka yang tinggal di Serpong dan sekitarnya. Ini ditandai dengan banyaknya pengunjung yang datang tiap harinya.
Tidak seperti tempat lain yang hanya menjual durian ketika musim tiba. Di Rumah Durian Harum, sepanjang tahun, kita bisa menikmati durian. Bukan hanya durian lokal yang disediakan oleh tempat ini, tapi juga durian impor seperti, KanYao, Nokyb, Pongmanee, atau Monthong.
“Berbagai macam durian disediakan di sini. Durian lokal dari Medan, Banten, Pekalongan, atau Jepara, bisa dicari di sini. Begitu juga dengan durian impor yang sengaja didatangkan dari Thailand atau Malaysia,” kata Somadi.
Setiap harinya, Rumah Durian Harum banyak dikunjungi masyarakat pecinta durian. Menurut Somadi, setiap harinya, bisa habis sekitar 8 kwintal durian impor dan 80 kilogram durian lokal.
Durian favorit yang banyak dibeli orang adalah durian Monthong Salju yang sudah dibekukan dan bisa dimakan kapan saja. “Durian ini bisa dibeli dan dimakan orang kapan saja. Katanya, durian ini pun baik untuk kesehatan,” jelas Somadi.
Dalam menjaga kualitasnya, Rumah Durian Harum selalu menjaga tingkat kemanisan setiap durian. “Rasa manisnya harus bisa memenuhi keinginan konsumen,” kata Somadi.
Hal itu dibuktikan dengan mengetes semua durian yang akan dijual pada masyarakat. Caranya dengan menggunakan alat ukur yang memang dirancang untuk mengetahui tingkat kemanisan durian-durian yang akan dijual.
Ada pun menurut Somadi, untuk mengetahui ukuran dari tingkat kemanisan yang terdapat di dalam sebuah durian yang akan dijual pada konsumennya tersebut. Pihaknya telah memiliki tingkat kemanisan tertentu yang ditunjukan oleh alat pengukur kemanisan sebesar 20-29.
Rumah Durian Harum telah memiliki sedikitnya sekitar 3 buah cabang yang terletak di beberapa kawasan di Jabodetabek seperti, di kawasan Jalan Panjang, Serpong, dan kawasan Pondok Cabe. Di Serpong sendiri, terdapat sekitar 13 orang pelayan yang siap membantu masyarakat yang ingin menikmati manisnya durian.
Di samping durian, di tempat ini pun dijual berbagai produk olahan durian seperti, jus durian, kripik durian, permen durian, es krim durian, dan lainnya. Buat yang malas ke luar rumah, durian bisa dipesan melalui telepon dan akan diantar dengan armada tersendiri. “Biar pesan 1 buah pun, akan kami antar untuk tujuan di sekitar sini,” tutup Somadi.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.20
0
komentar
Label: Khas
Selasa
Legiun Veteran Republik Indonesia, Menabur Harapan di Hari Senja
Setiap perjalanan tentu ada permulaannya. Seperti kata orang bijak, bahwa hari ini berakar di masa lalu dan masa mendatang ditentukan hari ini. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia juga memiliki sejarah, yang pada masanya diukir dengan darah, keringat, dan air mata rakyatnya.
Mengenang sejarah berdirinya Republik Indonesia, akan teringat perjuangan kakek nenek kita melawan penjajah. Segala keberanian dan pengorbanan dicurahkan untuk membela bumi pertiwi ini.
Tiga setengah abad lamanya negeri ini didera masa kolonial, yang ternyata tak menyurutkan semangat leluhur kita untuk tetap berbakti bagi negeri ini. Tahun 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Namun demikian, penjajahan fisik masih berlangsung bahkan hingga beberapa tahun kemudian.
Usai revolusi fisik berakhir, sebagian dari para pejuang tetap eksis dalam kesatuan dinasnya masing-masing. Tapi ada juga yang berhenti berkarir dalam dunia militer dan memilih menjadi warga sipil.
Hari demi hari pun berlalu. Kini Indonesia hampir menginjak usia ke-68. Para pejuang yang dulu mengangkat senjata pun tak lagi muda. Kesemua dari mereka telah berusia senja. Untuk mewadahi sekaligus menghormati jasa para pejuang, pemerintah mendirikan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), sebagai organisasi yang menaungi aktivitas dan kesejahteraan para veteran di masa purna baktinya.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 103 Tahun 1957, 1 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari lahir LVRI, tetapi karena membuat acara peringatan tanggal 1 Januari sangat sulit, karena bertepatan dengan perayaan tahun baru, maka kongres LVRI kemudian mengalihkannya menjadi tanggal 2 Januari.
Pembentukan LVRI sendiri memiliki 3 tujuan yaitu, pertama, untuk membina potensi nasional Veteran Republik Indonesia yang bertujuan untuk melestarikan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua, mewujudkan kesejahteraan rakyat, utamanya di bidang sosial ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, termasuk kesejahteraan anggota LVRI yang ini berkaitan dengan sesuatu yang penting, prosperity dan juga upaya memajukan kesejahteraan umum, kesejahteraan rakyat Indonesia. Dan yang terakhir, sesuai dengan amanah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, LVRI didirikan juga untuk ikut berkontribusi dalam penciptaan perdamaian dunia.
Katagori dan maksud dari veteran tertuang dalam Undang-Undang. Dalam beberapa catatan disebutkan, yang dimaksud dengan anggota LVRI adalah para pejuang kemerdekaan, Trikora, Dwikora, Seroja, dan juga para pejuang dalam tugas-tugas pemeliharaan perdamaian dunia, utamanya di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.
LVRI Kabupaten Tangerang
Melintas Jalan A. Yani, Tangerang, akan terlihat sebuah bangunan yang modelnya sederhana namun berhalaman lapang. Gedung bernomor 13 itu merupakan Markas LVRI Kabupaten Tangerang. Di tempat ini berkumpul orang-orang ‘hebat’ berusia lanjut.
LVRI Kabupaten Tangerang diketuai oleh Bogar Suriadhi. Dari data yang dimilikinya, dalam LVRI Kabupaten Tangerang tercatat ada 2000 orang anggota. “Di sini kami menghimpun 2000 orang veteran yang semuanya sudah sepuh,” kata Bogar yang tinggal di Cilenggang, Serpong.
Dalam kesehariannya, aktivitas LVRI Kabupaten Tangerang tak lagi sehebat masa mudanya. Hal ini tidak mengherankan, karena kebanyakan dari anggota legiun veteran ini sudah berusia di atas 70 tahun.
Dalam perbincangan dengan Bogar tentang LVRI, ada kisah miris yang disampaikannya. Bogar, sebagai pelaku sejarah mengaku sedih dengan keadaan bangsa ini sekarang. “Saya kecewa dengan wakil rakyat. Dulu kami bertempur mati-matian membela negara dibantu rakyat. Sekarang, setelah merdeka kebanyakan rakyat Indonesia belum juga dapat hidup sejahtera. Hanya para pemimpinnya saja yang semakin kaya,” ucap Bogar mengritisi kehidupan sosial bangsa ini.
Lebih dari itu, Bogar juga menyayangkan sikap generasi muda yang tak lagi peduli dengan sejarah bangsanya. Menurutnya, generasi muda sudah mulai melupakan kisah perjuangan nenek moyangnya.
Disinggung tentang harapannya terhadap keberadaan LVRI, Bogar mengungkapkan, ia bersama anggota yang lain hanya berharap agar pemerintah dapat lebih memperhatikan kesejahteraan para veteran. Kesejahteraan yang dimaksud, kata Bogar, tidak diartikan sebagai imbalan, melainkan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada para pelaku sejarah.
“Kami tidak minta yang macam-macam. Kami hanya ingin nasib para veteran dan keluarganya lebih diperhatikan, terutama untuk anak cucu kami,” sambung Bogar yang pada masa kemerdekaan bertugas dan bertempur di Banyumas, Jawa Tengah.
Bogar sendiri kini sudah tak lagi muda, meski demikian, dengan penuh semangat ia tetap menjalankan tugasnya sebagai Ketua LVRI Kabupaten Tangerang. Ia mengaku senang dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan rekan-rekan seperjungannya dulu.
Sebagai penutup, Bogar berpesan, anggota legiun veteran tidak akan mungkin bertambah, yang pasti terjadi akanlah berkurang. Bahkan, pada saatnya nanti, para veteran akan hilang dengan meninggalkan berjuta kenangan tentang betapa hebatnya bangsa ini di masa lalu.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.01
0
komentar
Label: Khas
Jumat
Panti Asuhan Mekar Lestari, Mengembalikan Hak Anak untuk Dikasihi
Adakalanya seorang anak manusia tidak diharapkan kehadirannya oleh ayah dan ibunya. Terlahir dalam jiwa dan raga yang suci, namun dihinakan oleh orangtuanya, hingga akhir terbuang dan terdampar dalam panti asuhan.
Banyak bayi dan anak-anak yang dibuang serta ditelantarkan orangtuanya akibat pergaulan bebas, alasan ekonomi, maupun pemaksaan kehendak (korban pemerkosaan). Bayi-bayi yang lemah dan tak berdaya tersebut terpaksa menerima perlakuan yang tidak adil, dipisahkan secara paksa dari ibu kandungnya sendiri. Mereka dilahirkan tetapi ditolak keberadaannya.
Dalam gelapnya malam dan terangnya sebuah siang, mereka hanya bisa rindu dekapan ibu kandungnya. Mereka hanya bisa membahasakan kesepiannya dalam isak tangis yang memilukan.
Panti Asuhan Mekar Lestari yang berlokasi di Sektor 1.5, Rawa Buntu, BSD berada di bawah naungan Yayasan Rumpun Lestari. Panti asuhan ini didirikan sebagai wujud nyata dari gagasan Pastor Lambertus Somar MSc., yang sangat prihatin dengan semakin merosotnya makna dari nilai-nilai kehidupan, sekaligus sebagai jawaban atas carut marutnya masalah sosial yangg mewarnai kehidupan di sekeliling kita.
Berdiri sejak tahun 2001 lalu, Panti Asuhan Mekar Lestari berbeda dengan panti asuhan pada umumnya. Panti asuhan ini tidak membina anak yatim paitu yang kemudian diserahkan kepada orangtua angkat.
Dijelaskan oleh Ketua Panti, Lily Anwar, Panti Asuhan Mekar Lestari hadir sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan dengan melestarikan, menghormati, dan membela kehidupan. “Sekuat tenaga, kami berupaya untuk mengembalikan hak anak-anak ini untuk dapat diterima kembali ke dalam pelukan orangtua beserta keluarga besarnya,” katanya.
Anak-anak yang ada dalam panti asuhan ini kebanyakan bukanlah anak yatim piatu.
Sebenarnya, sebagian dari mereka masih memiliki orangtua dan keluarga. Namun seperti disebut di atas tadi, keberadaan mereka tidak diterima oleh keluarganya. “Inilah tantang terberat yang kami hadapi. Mengembalikan anak-anak kepada keluarganya,” lanjut Lily.
Lebih jauh Lily menyebutkan, hingga saat ini tercatat ada 70 anak yang tinggal di panti asuhan yang memiliki bangunan gedung bertingkat dan berdiri di atas lahan seluas 2000 meter2 ini. Mereka terdiri dari tiga kelompok, yakni bayi, bayi di bawah tiga tahun (batita), dan bayi di bawah lima tahun (balita). Anak-anak ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Flores, Medan, Jakarta, dan sebagainya.
Dalam kesehariannya, Lily menuturkan, mereka (anak-anak) semua tetap mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama seperti anak-anak yang memiliki orangtua pada umumnya. Hanya saja, kasih sayang di dalam panti hanya berasal dari pengasuh dan pengurus panti. “Anak tetap belajar, bermain, makan dengan cukup, serta dijaga kebersihan dan kesehatannya. Di sini, selama menanti diterima kembali oleh orangtua dan keluarganya, mereka kami persiapan yang layak untuk melanjutkan hidupnya,” tegas Lily menambahkan.
Sebuah panti asuhan, tentu keberadaannya bersifat sosial. Tak ada istilah mencari keuntungan di balik penderitaan anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya tadi. Begitu pula dengan Panti Asuhan Mekar Lestari, untuk membiayai kehidupan sehari-harinya berasal sumbangan masyarakat dan donatur. “Mengenai masalah keuangan, kebanyakan berasal dari sumbangan masyarakat. Uang sumbangan itu kami kelola dengan baik dan jujur,” ujar Lily lagi.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.30
0
komentar
Label: Khas
Senin
Taman Wisata Tirta Sanita Ciseeng, Mandi Air Panas di Bukit Kapur
Padatnya aktivitas terkadang membuat jenuh. Butuh suatu penyegaran agar tubuh dan pikiran ini bisa kembali prima. Dan salah satu cara untuk menyegarkan diri adalah dengan berekreasi. Tapi terkadang tempat rekreasi yang didambakan berada jauh di luar kota, selain akan memakan waktu juga butuh dana yang tidak sedikit.
Di waktu yang terbatas, kita harus pandai memilih lokasi tujuan berwisata. Jika ternyata di sekitar kita ada tempat wisata yang menjanjikan dan murah meriah, tak ada salahnya untuk mencoba.
Berwisata pun akan lebih menyenangkan jika berkunjung ke tempat wisata alam. Selain dapat menyegarkan diri, kita juga bisa mengagumi keindahan alam yang begitu luar biasa.
Sesungguhnya, kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. Taman wisata alam bisa dikelola oleh pemerintah dan swasta. Seperti tempat wisata air panas Tirta Sanita, Ciseeng.
Air panas Tirta Sanita, Ciseeng merupakan salah satu obyek wisata yang unik, di mana sebuah bukit kapur yang terletak ditengah-tengah pesawahan mengeluarkan air panas dengan kadar belerang yang tinggi. Apabila dilihat dari kejauhan, bukit kapur ini akan terlihat seperti bukit yang bersalju karena pantulan kapur yang berwarna putih terdispersi oleh aliran air panas yang keluar di dalamnya.
Objek wisata alam ini merupakan pemandian air panas dengan panorama yang indah dan udara yang sejuk. Suguhan pemandangan persawahan yang cukup luas serta panorama pemandangan alam yang rimbun oleh pepohonan semakin menambah ketakjuban kita akan fenomena alam yang jarang ditemui ini.
Kandungan kadar belerang yang tinggi di air panas Ciseeng ini sering dimanfaatkan oleh para wisatawan untuk terapi penyembuhan beberapa penyakit, terutama penyakit kulit dan reumatik. Areal di sekitar air panas ini juga kerap dipakai oleh beberapa wisatawan dengan melakukan aktivitas camping.
Sebenarnya, di sekitar lokasi Ciseeng, Kabupaten Bogor terdapat beberapa tempat wisata air panas. Namun di antara beberapa sumber mata air panas yang ada di daerah ini, hanya lokasi pemandian air panas Tirta Sanita-lah yang dikelola sebagai tempat tujuan wisata.
Terletak sekitar 20 kilometer arah selatan dari Serpong, wisata air panas Tirta Sanita menyajikan wisata alam yang begitu kental. Dijelaskan oleh Pengelola tempat wisata ini, H. Mulyana, Tirta Sanita menawarkan wisata alam berupa air panas serta petualangan alam.
“Intinya, ada dua bentuk wisata yang kami sediakan, yaitu pemandian air panas dan petualangan outbond,” kata H. Mulyana.
Pertama-tama, ketika menginjakan kaki di tempat wisata ini, pengunjung akan menemui sebuah pintu gerbang sekaligus tempat pembelian tiket masuk. Tiket masuk ke lokasi pun terbilang cukup murah. Harga tiket ditetapkan sebesar Rp. 5 ribu per orang untuk hari biasa, dan Rp 6 ribu untuk hari libur.
Memasuki gerbang pemandian air panas Tirta Sanita, tampak deretan pohon palm raja teratur rapi di sisi kiri dan kanan. Beberapa meter kemudian pengunjung akan disuguhi pemandangan bukit kapur yang merupakan sentral dari lokasi pemandian ini. Kombinasi warna putih, abu-abu dan hitam terpadu dengan kontrast, serasi dengan warna hijau dedaunan pohon yang cukup banyak tumbuh di sekitarnya. Pada beberpaa bagian dari bukit ini dipahat menyerupai anak tangga sehingga memungkinkan pengunjung untuk mendakinya.
Di atas bukit kapur, terdapat sebuah kolam kecil yang berisi air. Bau belerang cukup menyengat pada air tersebut dengan warna putih kehijau-hijauan.
Wisata air panas Tirta Sanita menyediakan beberapa kolam pemandian air panas. Di sini terdapat kolam renang untuk anak-anak. Kolam ini ukurannya tidak begitu luas, kerana memang hanya diperuntukan bagi anak-anak. Untuk kolam renang anak ini, tarif masuknya sebesar Rp 4 ribu.
Setelah kolam anak, ada kolam air panas untuk orang dewasa. Kolam ini dibentuk dalam kamar-kamar kecil, dengan ukuran 2x2 m. Tarif kolam dewasa sebesar Rp 6 ribu. Dan yang terakhir adalah kolam air panas VIP yang juga diberada dalam ruangan namun dengan ukuran yang lebih besar. Tarif masuknya Rp 10 ribu.
“Ada beberapa kolam pemandian yang kami sediakan. Tempat wisata ini terbuka bagi siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa,” lanjut H. Mulyana.
Bermandi ria di Tirta Sanita ini, pengunjung tak perlu takut akan kelaparan atau kehausan, karena banyak sekali penjual makanan dan minuman di dalam kawasan ini. Bahkan begitu Anda duduk, langsung ditawarkan kelapa muda juga makanan lainnya. Selain itu, ada juga restoran yang menyajikan makanan dengan harga yang cukup terjangkau. Rasanya pun lumayan enak, restoran ini terletak di tengah danau.
Jika bosan bermain air, wisata outbond rasanya perlu dicoba. Pengalaman menegangkan akan terasa lewat permainan flying fox, yang berupa meniti tali dari atas bukit kapur hingga tengah pinggir kolam. Kemudian, bagi anak-anak terdapat arena mainan anak yang berupa mobil atau motor yang menggunakan batere.
Lebih jauh H. Mulyana menuturkan, untuk semakin memeriahkan tempat wisata ini, setiap akhir pekan diadakan pertunjukan musik langsung. Hiburan musik ini semakin mengajak pengunjung yang datang untuk melepaskan segala kepenatan. “Kami ingin pengunjung yang datang ke tempat wisata ini dapat benar-benar merasa senang. Karenanya, setiap Minggu selalu kami adakan hiburan musik,” pungkas H. Mulyana.
Taman wisata Tirta Sanita dapat menjadi pilihan lokasi liburan yang tepat bagi warga komunitas. Selain murah meriah, lokasinya pun tak jauh dari komunitas ini. Melihat keindahan alam yang ditawarkan, rasanya pantas bila menyebut tempat wisata ini sebagai taman wisata alam yang bermanfaat melepas kepenatan.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.41
3
komentar
Label: Khas
Sabtu
Kelenteng Boen Tek Bio, Saksi Sejarah Kota Tangerang dan Cina Bentengnya
Berbicara tentang Kelenteng Boen Tek Bio tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang Tionghoa di Tangerang. Walaupun umurnya sudah lebih dari 300 tahun, klenteng ini masih tetap berdiri kokoh.
Jika ditanya kapan berdirinya Kelenteng Boen Tek Bio? Pastinya belum ada orang yang bisa memastikannya. Diperkirakan, Kelenteng Boen Tek Bio berdiri sekitar tahun 1684. di masa itu, para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah).
Bio yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang.
Sebagai tuan rumah kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im. Selain Dewi Kwan Im di sebelah kiri dan kanan kelenteng ini juga dibangun tempat untuk dewa-dewa lain.
Berbicara tentang Kelenteng Boen Tek Bio, yang memiliki nama lain Padumuttara, tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang Tionghoa di Tangerang. Boen Tek Bio adalah kelenteng tertua di kawasan permukiman Cina, di Pasar Lama.
Kelenteng ini juga diketahui merupakan bangunan paling tua di Tangerang sekaligus menjadi saksi sejarah bahwa orang-orang Cina sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad.
Warna merah mendominasi
Menurut salah seorang umat yang identitasnya tak ingin disampaikan, Kelenteng Boen Tek Bio sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Maklum saja, bangunan ini usianya sudah lebih dari tiga ratus tahun. Sebagai informasi saat ini, Kelenteng Boen Tek Bio tengah mengalami pemugaran untuk bagian lantai.
Bangunan kelenteng banyak didominasi oleh warna merah. Mulai dari pilar-pilar penyangga hingga warna dinding, semuanya serba merah. Di bagian atap luar, hiasan naga sebagai simbol kesucian terpasang dengan apik. Kata sumber tadi, naga adalah hewan suci yang kehadirannya membawa kebahagian.
Meski usianya tak lagi muda, kelenteng ini masih menyimpan peralatan ibadah yang umurnya juga sudah cukup tua. Peralatan-peralatan tersebut antara lain atap kayu bagian dalam, genta, dan hiolo, ketiganya dibuat pada tahun 1805. Sementara itu, dua buah tungku yang dibuat dari roda kereta pada 1910 juga masih aktif digunakan umat untuk beribadah.
Kelenteng Boen Tek Bio berada di lingkungan pasar. Di sisi kanan dan kiri, berjajar banyak pedagang yang menghiasi pemandangan di sekitar kelenteng.
Bangunan utama kelenteng berada di bagian tengah. Selain bangunan utama, Kelenteng Boen Tek Bio – jika digambarkan berbentuk leter U – juga memiliki beberapa ruangan lain. Denah kelenteng ini, bangunan utama dikelilingi oleh delapan ruang peribadatan.
Sebagai tempat ibadah, tiap ruang tentu memiliki makna. Tapi Kelenteng ini juga masih memiliki dua buah lorong yang memiliki arti tersendiri dalam prosesi peribadatan, yakni Pintu Kesusilaan dan Jalan Kebenaran. Kedua lorong ini memiliki arti yang cukup dalam. Meski sederhana, kedua lorong itu mengajak umat untuk selalu berbuat kebaikan dan hidup di jalan yang benar.
Hidup dari sumbangan
Masih menurut sumber tadi, untuk urusan sehari-hari, Kelenteng Boen Tek Bio dikelola oleh sekitar 20 orang pengurus. Mereka bertugas menjaga dan merawat kelenteng. Ketika ditanya dari mana asal dana untuk mengelola kelenteng? Sang sumber menjawab, dari sumbangan umat. Memang kelenteng ini hidup dari sumbangan umat. Entah untuk perawatan, pemugaran, bahkan untuk ibadah.
Dari sebuah prasasti yang ada di kelenteng ini, tertulis nama-nama orang yang pernah menyumbang untuk kelenteng. Jika dihitung, jumlahnya lebih dari 1000 orang. Penulisan nama-nama tadi sudah dimulai sejak kelenteng ini ada.
Pada perayaan Imlek, Kelenteng Boen Tek Bio selalu ramai. Terutama pada tanggal 1 dan 15 imlek. Umat berbondong-bondong datang dan bersembahyang di kelenteng ini.
Sumber tadi juga mengutarakan, untuk perayaan Imlek, pengurus kelenteng tidak menyiapkan sesuatu hal yang mewah. Semuanya biasa saja. Kata sumber tadi, biasanya umat yang menyiapkan pesta perayaan Imlek.
Etnis Tionghoa di Tangerang
Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul "Tina Layang Parahyang" (Catatan dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang. Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407. Pada waktu itu pusat pemerintahan ada di sekitar pusat kota sekarang, yang diperintah oleh Sanghyang Anggalarang selaku wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan. Perahu rombongan Halung terdampar dan mengalami kerusakan juga kehabisan perbekalan. Daerah tujuan yang semula ingin dikunjungi adalah Jayakarta.
Rombongan Halung ini membawa tujuh kepala keluarga dan di antaranya terdapat sembilan orang gadis dan anak-anak kecil. Mereka kemudian menghadap Sanghyang Anggalarang untuk minta pertolongan. karena gadis-gadis yang ikut dalam rombongan itu cantik-cantik, para pegawai Anggalarang jatuh cinta dan akhirnya kesembilan gadis itu dipersuntingnya. Sebagai kompensasinya, rombongan Halung diberi sebidang tanah pantai utara Jawa di sebelah timur sungai Cisadane, yang sekarang disebut Kampung Teluk Naga.
Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. VOC yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Belanda mendirikan pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren, dan sebagainya.
Di sekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.
Masyarakat keturunan Tionghoa masih bertahan di Kota Tangerang. Keberadaanya telah membaur dengan warga lokal yang selanjutnya memberi warna baru dalam kegiatan hidup bermasyarakat di daerah ini. Saling bahu membahu, mereka turut membangun kota Tangerang hingga menjadi besar seperti sekarang ini.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
11.53
1 komentar
Label: Khas
Rabu
Angkringan, Dari Jogja ke BSD Sektor 1.3
Jika Anda pernah belajar atau kuliah di Yogyakarta, di mana dulu Anda sempat berembug bersama teman tentang tema skripsi atau tugas kampus lainnya? Di antara sekian tempat yang Anda sebutkan, pasti salah satunya adalah angkringan yang banyak menjamur di kota tersebut. Wajar, sebab tempat itu telah menjadi favorit banyak orang. Sejumlah tokoh terpandang seperti Butet Kertarajasa, Djaduk Ferianto, Emha ainun Nadjib, Bondan Nusantara hingga Marwoto pun sering menhabiskan waktu bersantai di salah satu angkringan yang berlokasi di kota Jogja.
Angkringan identik dengan kesederhanaan dan pas-pasan, maksudnya bila kondisi kantong kita pas-pasan cocoknya makan di angkringan. Angkringan biasanya buka menjelang matahari terbenam, tapi ada juga yang buka dari pagi sampai tengah malam. Pelanggan angkringan juga diidentikkan dengan anak kos, anak jalanan, atau tukang becak. Mereka biasa minum segelas teh hangat sambil menghisap sebatang rokok sambil ngobrol. Nuansa yang sangat akrab hampir dapat terlihat di setiap angkringan. Segala jenis obrolan berlaku di angkringan, mulai dari guyonan, obrolannya tukang becak, obrolannya mahasiswa, obrolan sepakbola, bahkan sampai obrolan politik.
Bagi Anda yang telah lulus kuliah dan sudah kembali ke kota asal, khususnya di wilayah Serpong, Tangerang tak perlu kuatir lagi. Rasa kangen untuk bersantai bersama teman-teman kuliah masih bisa Anda lakukan di angkringan. Angkringan yang kebanyakan ada di kota Jogja tersebut mulai melebarkan sayap hingga ke wilayah Serpong. Seperti Angkringan Ngudi Mulyo I Jogja yang membuka cabang tepat di depan Ruko Sektor 1.3 BSD.
Sama dengan angkringan yang kebanyakan berada di kota Jogja, begitu sampai di angkringan yang mulai buka pukul 6 sore ini, Anda bisa memesan bermacam minuman yang ditawarkan, panas maupun dingin. Pilihan minuman favorit adalah kopi susu jahe yang hangat dan terasa manisnya. Rasa hangat dan plong di tenggorokan akan terasa setelah meminum segelas kopi susu jahe tersebut.
Untuk menu makanananya, salah satu pengelola Angkringan Ngudi Mulyo I Jogja yang akrab di sapa pak Kumis ini menuturkan, di tempat ini tersedia berbagai makanan khas Ypgyakarta, seperti sego kucing berlauk oseng tempe dan sambal teri hingga gorengan. Sego kucing di Angkringan Ngudi Mulyo I yang harganya Rp 2 ribu per porsi tak kalah lezat dengan masakan lainnya sebab nasinya pulen dan oseng tempe dan sambal terinya berbumbu pas. Menikmati sego kucing yang selalu disajikan dalam keadaan hangat dengan lauk gorengan atau sate telur selain lezat juga tak terlalu menguras uang.
Nasi kucing, jagoan angkringan
Bagi yang awam dengan sego (nasi) kucing, pasti akan bertanya-tanya. Jangan-jangan nasi kucing itu makanan kucing. Oo.. bukan. Nasi kucing itu hanya nama. Panganan ini sama seperti makanan nasi pada umumnya. Hanya saja porsinya tak begitu banyak. Hanya sebesar kepalan tangan. Nasi kucing sendiri berisi nasi putih yang langsung dilengkapi dengan aneka lauk. Mungkin, karena
Aslinya, nasi kucing ini dibungkus dengan koran dan daun pisang dan diikat dengan karet. Warna karet inilah yang menentukan lauk nasi kucing. Upamanya, bungkusan dengan karet hijau menandakan itu adalah nasi dengan sambal teri. Atau, bungkusan dengan karet kuning isinya nasi dengan kering tempe.
Menariknya bersantai di angkringan, jika makanan dalam keadaan dingin, Anda dapat meminta penjual untuk menghangatkannya dengan cara dibakar. Lauk pauk yang menjadi lebih lezat ketika dibakar adalah mendoan (tempe goreng tepung), tahu susur, tempe bacem, endas (kepala ayam) dan tentu saja sate telur. Bila tak nyaman makan dengan bungkus nasi saja atau Anda makan dalam jumlah banyak, penjual angkringan menyediakan piring untuk menyamankan acara makan Anda.
Pembeli pun bisa memilih tempat duduk yang telah disediakan. Menariknya di tempat ini, pembeli tidak duduk dibangku atau sofa mewah seprti yang ada di restoran. Melainkan duduk di tikar yang digelar memanjang di trotoar seberang jalan. Sambil duduk dan bersantap ria, nongkrong di angkringan Anda juga bisa memandangi indahnya malam yang berselimut bintang. Ingin coba, silahkan saja.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
17.36
0
komentar
Label: Khas