Anak yang sehat adalah anak yang dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Melalui bimbingan dan asuhan orangtua, anak akan mendapat didikan yang terbaik untuk dirinya. Pertumbuhan dan perkembangan anak sudah dimulai sejak dalam kandungan.
Dalam seminar kesehatan yang digelar Eka Hospital BSD beberapa waktu lalu, yang menghadirkan Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang – pediatri sosial Eka Hospital BSD, jika pertumbuhan dan perkembangan anak penting adanya dalam menciptakan seorang manusia yang berakal dan memiliki kepribadian yang baik.
Menurut Dr. Soedjatmiko, pertumbuhan didefinisikan sebagai berkembangnya ukuran-ukuran tubuh, seperti bertambahnya tinggi badan, berat badan, ukuran lingkaran kepala, gigi, tulang, otot, dan organ tubuh lainnya.
Sementara perkembangan adalah bertambahnya fungsi-fungsi individu, yaitu fungsi penginderaan (melihat, meraba, merasa, mencium, mendengar), pergerakan, komunikasi, kognitif, kreatifitas, emosi sosial, kerjasama dan kepemimpinan, etika, moral, dan spiritual.
“Supaya bayi dan balita tumbuh kembang dengan optimal, mereka harus dicukupi 3 kebutuhan pokok yaitu kebutuhan fisik biologis, kasih sayang, dan stimulasi dini sejak di dalam kandungan,” kata Dr. Soedjatmiko.
Kebutuhan fisik biologis adalah kebutuhan nutrisi (ASI dan makanan pendamping ASI), imunisasi, kebersihan badan dan lingkungan tempat tinggal, pengobatan, bergerak dan bermain. Kebutuhan fisik biologis terutama berpengaruh pada pertumbuhan fisik, termasuk otak, alat penginderaan, dan alat gerak untuk mengeksplorasi lingkungan, sehingga berpengaruh pada berbagai kecerdasan anak.
Selanjutnya, kebutuhan kasih sayang meliputi rasa dilindungi, rasa aman dan nyaman, diperhatikan dan dihargai, didengar keinginan atau pendapatnya, tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan, tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan. Kebutuhan kasih sayang besar pengaruhnya pada kemandirian dan kecerdasan emosi.
Sedangkan kebutuhan stimulasi bermain meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, membau, mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi sosial, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak atau multipel intelegen.
“Ketiga kebutuhan pokok ini harus diberikan secara bersamaan sejak janin di dalam kandungan terutama sampai umur dua tahun. Di masa ini pertumbuhan cabang-cabang sel otak sangat cepat,” tambah Dr. Soedjatmiko.
Tak bisa dipungkiri tanggung jawab keberhasilan dalam proses tumbuh kembang anak, sebagai besar berada di tangan orangtuanya. Sejak dalam kandung, orangtua wajib mengasuh calon anaknya dengan penuh kasih sayang.
Kemudian, dalam masa balita, sikap keluarga yang demokratif dan membimbing akan berpengaruh positif pada sikap, pemikiran, dan tingkah laku anak. Singkatnya, dalam proses tumbuh kembang anak, orangtua jangan membatasi atau menghentikan rasa ingin tahu anak serta jangan banyak mengancam atau menghukum. Beri kesempatan anak untuk mencoba berbagai hal selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain.
Rabu
Pentingnya Nutrisi dan Stimulasi untuk Anak
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
14.27
0
komentar
Label: Keluarga
Kamis
Belajar Kata Maaf untuk Anak
Saat bermain dengan teman sebayanya, tiba-tiba si kecil secara tidak sengaja menyenggol temannya hingga terjatuh dan menangis. Namun si kecil tidak memberikan reaksi apapun. ia tidak mengucapkan maaf apalagi membantu sang teman, meskipun Anda sudah menyuruhnya. Hingga akhirnya Andalah yang terpaksa turun tangan untuk menghibur temannya.
Mungkin hal ini pernah Anda alami. Sudah berulang kali Anda meminta anak Anda untuk minta maaf setiap melakukan kesalahan, tapi selalu responsnya hanya melihat sekilas sambil berlalu. Seakan-akan ia tidak bersalah sama sekali. Mungkinkah si kecil terlalu cuek dan tidak menyadari kalau Ia telah berbuat salah?
Minta maaf atau menyesal memang terlalu sulit dilakukan anak-anak terutama yang berusia di bawah tiga tahun. Pada usia tersebut, anak sedang berada pada fase egosentris sehingga belum mampu melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain.
Namun hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seorang anak tetap harus dibiasakan dan diajarkan mengucapkan kata maaf setiap ia melakukan kesalahan. Faktor yang terpenting pada usia ini adalah pembiasaan, karena seiring waktu ia akan memahami konsep maaf.
Bila tak dibiasakan sejak dini, maka akan terbawa hingga usia dewasa dan berpengaruh pada perkembangan sosialnya. Anak bisa saja tidak akan disukai di dalam pergaulannya. Selain itu emosi anak bisa berkembang tidak optimal, karena dengan tidak mengakui kesalahan berarti ia tidak bisa menilai dirinya dengan tepat.
4 Langkah
Berikut 4 langkah sederhana untuk membiasakan batita mengucapkan kata maaf, pertama, berikan contoh langsung. Seorang anak memang cenderung mencontoh kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya.
Contohkan padanya bagaimana seharusnya kata maaf diucapkan. Misalkan, saat Anda secara tak sengaja menumpahkan susunya, ucapkan permintaan maaf padanya. Dengan demikian anak akan terbiasa melihat orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan.
Yang kedua, tunjukkan penyesalan dengan bahasa tubuh. Gunakan bahasa tubuh Anda pada saat mengungkapkan permintaan maaf. Anda bisa melakukan kontak mata saat mengucapkan kata maaf, menggenggam tangannya, memeluk erat, atau mencium keningnya, sehingga ia bisa merasakan penyesalan yang mengiringi kata maaf itu.
Namun ingat, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan hanya boleh diberikan pada papa atau mama atau kakak dan adik, sedangkan untuk orang lain cukup dengan bersalaman saja.
Ketiga, dorong agar ia bertanggung jawab. Selain mengucapkan kata maaf, ajarkan pula anak Anda untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya. Misalkan, saat ia menyenggol temannya hingga terjatuh. Setelah si kecil mengucapkan kata maaf, ajak dia untuk membantu temannya berdiri atau sekedar memberikan plester. Tindakan ini sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.
Terakhir, berikan pujian. Tidak ada salahnya memberikan pujian setelah anak Anda mengucapkan kata maaf setiap kali ia melakukan kesalahan. Hal ini sebagai penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.
Selain empat langkah di atas, Anda juga harus mengajarkan si kecil kapan kata maaf itu layak diucapkan. Misalkan ketika ia menyusahkan orang lain, mencelakai orang lain, melanggar janji, melakukan hal-hal yang sudah dilarang, atau pada saat ia melakukan hal-hal yang tidak disukai orang lain. Dengan begitu, ia akan memahami yang ditekankan adalah pesan untuk tidak mengulangi kesalahan, bukan semata-mata minta maaf tanpa mengerti alasannya.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.30
0
komentar
Label: Keluarga
Rabu
Harapan Orangtua pada si Sulung
Setiap anak adalah kebanggaan orangtuanya. Tak peduli anak pertama, kedua, atau terakhir, semuanya sama, diharapkan dapat berbakti dan bertanggung jawab kepada ayah ibunya. Namun, sedikit yang membedakan, anak pertama atau anak sulung, biasanya memiliki beban mental yang agak berat.
Posisi istimewa dalam keluarga, umumnya biasa dinikmati oleh anak pertama. Boleh dibilang, ia memiliki segalanya, status sebagai yang tertua, perhatian dan kasih sayang penuh dari orang tua, serta memperoleh pengalaman-pengalaman mengasyikkan yang mungkin tidak dinikmati adik-adiknya. Pun demikian, seperti dikutip dari portal Ruang Keluarga, ada kalanya posisi sebagai sulung, membuat seorang anak memiliki beban mental yang tidak ringan.
Tak sedikit beban dan harapan yang diberikan banyak orangtua kepada anak sulungnya. Mulai dari penanaman kedisiplinan, norma-norma tertentu, hingga soal tanggung jawab terhadap adik-adiknya. Pemberian beban yang berlebihan ini tidak sedikit yang menimbulkan beban psikologis pada anak sulung. Terlebih apabila mereka tidak bisa mewujudkan harapan orangtuanya.
Di antara anak dalam suatu keluarga, anak sulung memang menempati posisi yang istimewa. Kelahirannya biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya. Juga oleh kakek neneknya, apalagi kalau ia merupakan cucu pertama dalam keluarga. Ia bisa memiliki segalanya, mulai dari status anak sulung, perhatian serta kasih sayang penuh dari orangtua dan orang sekitarnya.
Istimewa dan unik, itulah hubungan yang kerap terjadi antara orangtua dengan anak sulung. Seakan, hubungan itu penuh dengan keajaiban, kesenangan, kecemasan serta perasaan yang begitu kompleks. Dalam beberapa hal orangtua belajar untuk mengatasi persoalan anak bersamaan dengan pertumbuhan anak sulungnya.
Pun begitu, banyak terjadi sikap orangtua terhadap anak sulung mulai berubah manakala adiknya lahir. Sedikit banyak perhatian mereka mulai beralih ke bayi yang baru lahir. Perubahan ini tentu kurang menyenangkan bagi anak sulung yang selama ini menikmati hak-hak istimewanya. Karena itu tidak sedikit anak sulung yang bersikap ’sangat benci’ kepada adiknya, yang dianggap telah merebut perhatian orangtua mereka.
Guna memahami situasi seperti itu, orangtua harus jauh-jauh hari mempersiapkan mental anak untuk menghadapi kelahiran adiknya. Berkurangnya perhatian dan sikap orangtua yang mulai berubah, serta banyak tuntutan untuk si sulung. Hal tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk memberi contoh yang baik kepada adik-adiknya.
Perubahan sikap yang terjadi, jelas akan menimbulkan beban psikologis tersendiri pada sang anak. Sekali lagi, setiap orangtua memiliki harapan yang besar kepada anak-anaknya. Dan semoga saja itu bisa terlaksana. Kendati demikian, jangan berkecil hati jika ternyata harapan itu tak kunjung tiba. Jangan pernah menyatakan anak tidak berhasil, karena anak pun akan merasa bersalah. Keadaan seperti itu membuat anak sulung memiliki sifat lebih serius, disiplin dan bekerja keras daripada adiknya.
Sebesar apapun harapan orangtua, setiap anak tentu memiliki cita-cita dan keinginannya sendiri. Untuk itu, ada baiknya para orangtua tetap memperhatikan minat dan bakat anak, lalu arahkan dengan baik. Semoga, si sulung mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, dan selanjutnya dapat mengharumkan nama kedua orangtuanya.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.16
0
komentar
Label: Keluarga
Jumat
Ayah, Menentukan Kualitas Anak
Seorang ayah dapat menjadi model bagi anak-anak mereka, mencontoh perilaku ayah itulah yang sering dilakukan anak-anak. Namun tidak selamanya seperti itu, bisa saja sang anak meniru perilaku buruk ayahnya.
Apa pun jenis kelamin anak, ayah adalah model terdekat bagi mereka. Sikap dan perilaku ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain terekam dengan kuat dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, ternyata anak laki-laki lebih senang mencontoh perilaku ayah mereka.
Seorang ayah yang bermalas-malasan, memberi catatan pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Namun, pada anak perempuan akan lahir pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan bahwa sifat laki-laki adalah suka bermalas-malasan!
Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak, di antaranya :
- Perlakukan ibu dari anak-anak dengan baik
Menjaga keutuhan pernikahan dan rumah tangga, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibu dari anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.
- Peka terhadap kondisi rumah
Perhatikanlah hal-hal kecil yang ada di sekitar rumah. Jangan sampai istri atau anak Anda mengingatkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya Anda sudah mengetahuinya, namun belum berbuat sesuatu terhadap hal tersebut.
- Luangkan waktu bersama anak
Cara seorang ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, anak akan paham bahwa ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan bahwa ayah mementingkan dirinya sendiri.
Menjadi seorang ayah memang memerlukan proses yang panjang, diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, menghargai istri dan anak-anak, peduli urusan rumah, dan sadar bahwa perilakunya menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah.
Berikut kelanjutan dari artikel sebelumnya :
- Komunikasi dengan anak
Umumnya, ayah hanya mau bicara dengan anak bila anak melakukan kesalahan. Cobalah untuk membiasakan berkomunikasi dengan anak serta dengarkan ide serta masalah yang mereka miliki.
- Jadilah guru bagi anak
Ajarkan hal baik dan buruk pada anak-anak. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.
- Disiplinkan anak dengan cinta
Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.
- Sediakan waktu untuk makan bersama
Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.
Mulailah sedari sekarang untuk menjadi model terbaik bagi anak-anak Anda. Bagaimana? (ruangkeluarga.com)
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
13.57
0
komentar
Label: Keluarga
Sabtu
Selalu Ada Cobaan dalam Perkawinan
Membina rumah tangga agar senantiasa bahagia memang tak semudah yang dibayangkan. Banyak cobaan dan aral yang akan melintang. Jika tak sabar dan pandai membina hubungan dengan pasangan, kemungkinan besar dan dengan sangat menyedihkan, perkawinan akan berakhir di tengah jalan.
Di tahun pertama perkawinan, Anda masih belajar untuk hidup berdua, dan tengah mempersiapkan diri belajar hidup bertiga, dengan kehadiran si buah hati. Tak ada salahnya di tahun pertama perkawinan ini, Anda berdua mulai belajar memupuk minat pada kegiatan yang sama.
Tak perlu cemas bila dalam masa penyesuaian terjadi pertengkaran. Yang penting, temukan cara penyelesaian yang terbaik dan gunakan pengalaman yang didapat untuk menghadapi masalah serupa.
Dikutip dari berbagai sumber, meski di tahun pertama perkawinan ini Anda berdua masih meraba-raba ke mana kehidupan pernikahan ini akan berjalan, ada baiknya Anda dan pasangan mulai melihat jauh ke depan.
Tentukan rencana jangka pendek dan jangka panjang, dari jumlah anak yang diinginkan hingga merencanakan keuangan agar anak-anak kelak bisa bersekolah sampai ke jenjang tertinggi.
Memasuki tahun kedua, manisnya masa bulan madu berkurang. Pahitnya konflik akibat perbedaan sifat dan pendapat, mulai terasa. Anda mungkin sempat putus asa, mengapa pasangan jadi semakin menyebalkan?
Tak perlu buru-buru cemas dan berprasangka yang bukan-bukan. Meski belum bisa sepenuhnya menerima perbedaan itu, mulailah belajar saling berkompromi. Konflik biasanya timbul bila masing-masing Anda memiliki harapan dan aspirasi berbeda terhadap pasangan. Jadi, sedapat mungkin saling komunikasikan, apa yang Anda harapkan dari pasangan.
Di tahun kedua ini, umumnya Anda berdua sudah jadi ayah dan ibu. Berperan sekaligus sebagai ibu dan istri atau ayah dan suami memang tidak gampang. Istri yang sibuk mengurus anak, jadi sering lupa merawat suami, bahkan dirinya sendiri. Suami juga sering lupa memanjakan istri seperti waktu berpacaran. Karena, semua perhatian, waktu dan tenaga tercurah pada anak.
Jadi, jangan lengah! Meski disibukkan dengan peran-peran ini, tetap usahakan untuk memberi perhatian khusus pada pasangan. Bagaimanapun, setiap manusia butuh untuk merasa tetap dicintai. Ajak pasangan Anda untuk kencan setiap hari Jumat, misalnya. Pada saat itu Anda bisa nonton, main bowling, atau sekadar menikmati secangkir kopi di kafe.
Tapi yang lebih penting, pahami bahwa tak ada satu pun dari Anda yang bisa berubah total dalam waktu singkat. Ini akan meringankan hati Anda, membuat Anda lebih sabar, dalam menghadapi ‘kelemahan-kelemahan’ pasangan. Tidak malah saling menyalahkan dan menyudutkan.
Bagaimana pun, di segala hal termasuk pernikahan, cobaan pasti ada. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Namun dalam konteks rumah tangga, kunci utama untuk menangkal beragam cobaan adalah komunikasi. Saling terbuka antara Anda dan pasangan, serta saling mendengarkan tentunya akan melahirkan sikap saling mengerti dan memahami.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
09.12
0
komentar
Label: Keluarga
Konsisten Mengelola Keuangan Keluarga
Setiap orangtua tentu bangga dengan anak-anaknya. Selain sebagai penerus garis keturunan, anak juga merupakan berkah dari Yang Kuasa. Tapi, bagi para orangtua, pemenuhan kebutuhan anak harus diperhatikan dengan seksama. Bila tidak ada perencanaan yang berkesinambungan khususnya perencanaan anggaran keluarga, akan sangat sulit untuk tetap dapat hidup layak tanpa gangguan permasalahan finansial.
Anggaran pendapatan dan belanja keluarga merupakan jantung dari sebuah perencanaan yang baik dan efektif. Anggaran keuangan yang diperhitungkan secara benar akan memaksimalkan keterbatasan pendapatan guna mencapai seluruh sasaran maupun tujuan keuangan jangka panjang.
Disarikan dari berbagai sumber, pembuatan perencanaan anggaran merupakan pengumpulan semua ekspektasi pemasukan setiap bulan selama satu tahun ke depan dan ekspektasi semua pengeluaran dalam bentuk tabular. Di mana di tengah dari laporan perencanaan merupakan ekspektasi pengeluaran bulanan di mana dibagi dalam dua bagian pengeluaran tetap dan tidak tetap. Dan di awal dari laporan anggaran penempatan pemasukan yang dihasilkan setiap bulannya.
Surplus maupun defisit setiap bulan dapat dilihat dari perhitungan ekspektasi pendapatan setiap bulan dan pengaluaran yang harus dikeluarkan. Pada bagian paling bawah dapat dilihat ‘emergency fund’ yang disiapkan bila terjadi defisit atau kejadian tak terduga dalam bulan berjalan maka dapat tutup dengan dana yang tersedia di pos ini.
Seperti membuat rencana keuangan di bidang lain, secara garis besar dibedakan menjadi dua, yakni pendapatan dan pengeluaran. Masing-masing bagian disusun dan dilokasikan dengan benar. Mana-mana saja bagiannya.
Langkah awal membuat rencana keuangan keluarga adalah dengan menentukan sasaran dan tujuan keuangan keluarga. Yang diteruskan dengan mendata ulang semua informasi mengenai keuangan keluarga. Lalu, membuat dan mengembangkan perencanaan anggaran. Kemudian, analisis perencanaan yang baru saja dibuat. Serta, laksanakan perencanaan anggaran sesuai hasil analisis. Terakhir, tinjau ulang perencanaan dan kontrol anggaran, sehingga tetap pada jalur perencanaan yang telah dibuat.
Tahap-tahap perencanaan tadi sebaiknya dibuat sistematis dan terukur. Rencana pengeluaran sebaiknya dibuat berimbang dengan pemasukan yang ada. Memang, kadang kala anggaran pengeluaran yang kita sisihkan justru lebih banyak daripada pemasukan yang didapat. Tapi dengan membuat prediksi yang tepat, selisih yang terjadi bisa diantisipasi dengan dana cadangan.
Meski berpenghasilan pas-pasan, dana cadangan dan tabungan tetap harus diperhitungkan. Agendakan kedua hal ini dalam rancangan pengeluaran Anda. Jangan menabung atau menyiapkan dana tak terduga jika ada uang sisa.
Setelah rencana keuangan dibuat, tinggal realisasinya saja. Jika rancangan finansial keluarga itu diikuti aturan mainnya, kemungkinan besar Anda dan keluarga tidak akan kerepotan mengurus keuangan keluarga. Lain halnya jika Anda tidak bisa mentaati peraturan yang telah Anda buat itu. Terlalu sering jajan alias boros, bisa jadi faktor utama ketidaksuksesan Anda mengelola keuangan keluarga.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.10
0
komentar
Label: Keluarga
Kamis
Memilih Pengasuh Anak
Memiliki anak adalah kebanggan bagi setiap orangtua. Segala sesuatu yang terbaik, diberikan untuk si buah hati. Pun demikian, ada kalanya ayah dan ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam keluarga. Dan dengan terpaksa, si kecil harus diasuh oleh pengasuh anak.
Setiap orangtua yang bekerja (ayah dan ibu) tentu memiliki kecemasan yang luar biasa ketika harus meninggalkan anaknya. Meski dijaga oleh pengasuh anak tetap saja rasa khawatir itu ada. Apalagi, banyak media yang memberitakan pengasuh anak menculik atau menjahati anak asuhnya.
Dilansir dari berbagai sumber, beruntunglah bila Anda masih memiliki orangtua atau sanak saudara terdekat yang bisa dititipi anak. Namun, tak semua orang memiliki famili yang dapat mengurus anak. Andaikan mereka bersedia, boleh jadi Anda tetap harus mempekerjakan seorang pengasuh bayi atau baby sitter untuk mengurus keperluannya. Artinya, orangtua atau famili Anda bertindak sebagai ’mata ketiga’ yang mengawasi keseharian si kecil.
Apabila pengasuh bayi dijadikan solusi, siap-siaplah berburu dari sejak Anda belum kembali bekerja di kantor. Pasalnya, setiap orang, kendati ia pengasuh anak yang berpengalaman pun, membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Baik itu menyesuaikan diri dengan anak yang diasuhnya, maupun dengan rumah dan seisi rumah dimana ia bekerja. Selain itu, Anda juga membutuhkan waktu untuk mengenal seorang pengasuh, meskipun ia direkomendasikan banyak pihak, termasuk yayasan yang menyalurkannya.
Dengan berbagai alasan, memilih pengasuh bayi memang memerlukan kejelian tersendiri. Rekomendasi dari yayasan, sebaiknya tidak dianggap sebagai ’prestasi’ yang mutlak. Yayasan berkepentingan menyalurkan anggotanya supaya memiliki pekerjaan. Karena itu, lebih baik Anda mengandalkan rekomendasi dari orang lain, misalnya teman, saudara, dan orang yang dapat dipercaya, atau orang lain yang pernah menggunakan jasa yayasan atau pengasuh anak tersebut.
Dalam memilih pengasuh anak, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan. Pertama, bila tidak ada rekomendasi dari orang biasa yang Anda percayai, pergilah ke yayasan yang sudah terkenal dan memiliki reputasi positif. Walau bukan jaminan, nama yayasan yang telah terkenal bisa diasumsikan membuat pengurusnya berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggannya. Selain itu, yayasan yang resmi dan baik juga membuat Anda mudah mengklaim atau menyertakan keluhan bila kelak ada sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Kemudian, pada saat memilih pengasuh anak, lakukan wawancara dengannya dan perhatikan caranya menjawab. Apakah logis, sopan, dan menunjukkan intelegensia yang cukup dan sesuai dengan kondisi rumah Anda. Ingat, mengasuh anak bukan pekerjaan mudah. Bila seorang pengasuh anak tidak paham akan segala perabotan di rumah, ia juga malah akan menjadi beban dan mungkin mencelakakan anak yang diasuhnya.
Dan yang sangat penting bagi orangtua, gunakan intuisi. Memang, gambaran tentang pengasuh anak yang ideal belum tentu ada di dalam seorang calon pengasuh anak. Namun, cobalah gunakan intuisi, sehingga Anda bisa merasa lebih pasti.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.10
0
komentar
Label: Keluarga
Minggu
Anak juga Butuh Persiapan untuk Hadapi Perceraian
Perceraian seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Menurut Holmes dan Rahe, perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup.
Setiap melihat tayangan infotainment di layar kaca, hampir setiap saat ada berita tentang perceraian artis atau figur publik lainnya. Bahkan, sebagian orang menganggap perceraian di kalangan selebritis menjadi sebuah fenomena baru yang juga menjadi trend.
Bersumber pada situs e-psikologi, pada umumnya orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian tersebut dibandingkan anak-anak mereka. Hal tersebut karena sebelum mereka bercerai biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik.
Tidak demikian halnya dengan anak, mereka tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja ayah tidak lagi pulang ke rumah atau ibu pergi dari rumah atau tiba-tiba bersama ibu atau ayah pindah ke rumah baru.
Hal yang mereka tahu sebelumnya mungkin hanyalah ibu dan ayah sering bertengkar, bahkan mungkin ada anak yang tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar karena orangtuanya benar-benar rapi menutupi ketegangan antara mereka berdua agar anak-anak tidak takut.
Kadangkala, perceraian adalah satu-satunya jalan bagi orangtua untuk dapat terus menjalani kehidupan sesuai yang mereka inginkan. Namun apapun alasannya, perceraian selalu menimbulkan akibat buruk pada anak, meskipun dalam kasus tertentu perceraian dianggap merupakan alternatif terbaik daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan yang buruk.
Jika memang perceraian adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dan tak terhindarkan lagi, orangtua harus memikirkan dampak perpisahan itu terhadap anak-anaknya. Ini perlu dilakukan untuk mengurangi dampak negatif perceraian tersebut bagi perkembangan mental anak-anak mereka. Dengan kata lain bagaimana orangtua menyiapkan anak agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akibat perceraian.
Beberapa ahli psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling penting yang dapat diberikan orangtua yang bercerai adalah mencoba menentramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya.
Hal lain yang perlu dilakukan orangtua yang akan bercerai adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah satu pihak yang sedang cekcok serta jangan sekali-sekali melibatkan mereka dalam proses perceraian tersebut.
Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah dengan mencarikan orang dewasa lain seperti paman dan bibi, yang untuk sementara dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya. Maksud dari hal ini adalah supaya anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam mencari figur pengganti ayah dan ibunya yang tidak lagi hadir seperti sebelum ada perceraian.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.30
0
komentar
Label: Keluarga
Jumat
Menjadi Ayah yang Hebat Sepanjang Masa
Pada suatu masa, seorang laki-laki akan berkeluarga dan memiliki keturunan. Tibalah saat baginya untuk menjadi kepala keluarga, menjadi panutan bagi istri dan anak-anaknya. Tapi ternyata, menjadi seorang ayah tidak mudah seperti yang dibayangkan. Banyak hal yang harus diperhatikan, agar menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.
Sudah garis tangan kaum Adam untuk menjadi seorang ayah. Membimbing dan membesarkan anak-anaknya agar menjadi manusia yang berguna. Pun demikian, belajar menjadi seorang ayah yang baik tidak bisa berlangsung dengan cepat. Semuanya butuh proses dan pembelajaran.
Disebutkan oleh banyak sumber, banyak hal yang harus dipenuhi untuk menjadi ayah yang baik. Pertama, menghormati ibu dari anak-anak. Di sini kita mengajarkan kepada anak-anak untuk sayang kepada ibu sekaligus membina hubungan yang harmonis dalam rumah tangga.
Kemudian, lewatkan waktu bersama anak-anak. Hal ini yang mungkin sering kita lupa. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, waktu untuk anak-anak hanya sedikit sekali. Pada akhirnya, karena kurang waktu bersama, anak-anak akan merasa ditelantarkan.
Sudah sifatnya kaum laki-laki agak sedikit keras daripada kaum wanita. Karenanya, dalam hal mendidik anak, sifat keras itu kerap terbawa. Pada dasarnya, mendidik anak tidak harus dengan kekerasan, melainkan displinkanlah dengan kasih.
Semua anak butuh bimbingan dan pendisiplinan, bukan sebagai hukuman, melainkan untuk menetapkan batasan-batasan yang masuk akal. Jika Anda seorang ayah, ingatkanlah anak-anak Anda akan ganjaran perbuatan mereka dan berikanlah imbalan yang berarti atas perilaku yang diinginkan.
Lebih dari itu. para ayah adalah model peran bagi anak-anaknya, entah mereka menyadarinya atau tidak. Seorang anak perempuan yang melewatkan waktu dengan Ayahnya yang penuh kasih tumbuh dengan pengetahuan bahwa ia pantas diperlakukan dengan hormat oleh anak-anak lelaki, dan apa yang harus dicarinya dalam diri seorang suami. Para Ayah dapat mengajari putra-putrinya apa yang penting dalam kehidupan ini dengan mendemonstrasikan kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
Setiap anak butuh ketenteraman yang berasal dari mengetahui bahwa mereka diinginkan, mereka diterima, dan dikasihi oleh keluarga. Orang tua, terutama para Ayah, perlu membiasakan diri merangkul anak-anaknya. Memperlihatkan kasih sayang setiap harinya adalah cara terbaik untuk memberitahu mereka bahwa Anda sayang kepada mereka.
Menjadi seorang ayah, tidak hanya berlaku ketika si anak masih kecil. Setelah anak-anak besar dan siap meninggalkan rumah pun, mereka akan tetap mencari hikmat serta nasihat dari ayahnya. Entah soal meneruskan pendidikan, pekerjaan baru, atau pernikahan. Di sini para ayah terus memainkan peran penting dalam kehidupan anak-anak mereka sementara mereka bertumbuh dan, mungkin, menikah serta membangun keluarga sendiri.
Bagi laki-laki, menjadi ayah adalah hal yang membanggakan. Membesarkan anak menjadi tugas yang sangat mulia. Peluh keringat dicucurkan untuk kebahagian anak-anak, dan istri tentunya. Penilaian tentang ayah yang baik, tentu sangat subjektif. Setiap orang berhak memiliki pandangannya sendiri-sendiri akan hal itu. Tapi yang pasti, seorang ayah harus punya kasih sayang, bukan begitu?
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.12
0
komentar
Label: Keluarga
Sabtu
Ketika Ibu Harus Bekerja
Secara global, hidup di negeri ini makin sulit. Biaya hidup makin tinggi, harga bahan-bahan kebutuhan pokok terus merangkak naik. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga, akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibu pun ikut bekerja.
Banyak pilihan dimiliki Ibu yang ikut bekerja. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Jika memilih bekerja di luar rumah, ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga, karena pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yakni mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur, dan membimbing anak-anak.
Bagaimana pun juga anak-anak, terutama usia balita masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana seperti mandi atau makan. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu, orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan pekerjaannya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian.
Seorang anak kepribadiannya dibentuk mulai ketika ia berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekelilinyanya. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja.
Karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil, terkadang akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik.
Untuk itu, ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolah anaknya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil. Sedangkan untuk ibu yang bekerja di dalam rumah, bagaimana pun ia tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana.
Tetapi tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu saja, tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik.
Seorang ibu yang bekerja sekaligus menambah penghasilan keluarga, sedikit banyak akan sangat membantu perekonomian keluarganya. Meski demikian, orang tua yang bijak tentu akan senantiasa menyediakan waktu untuk menyaksikan pertumbuhan anak-anaknya. (berbagai sumber)
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
14.12
0
komentar
Label: Keluarga
Mengajak Anak untuk Bugar dan Sehat
Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh dengan sehat. Kebahagian akan terlihat di mata orang tua ketika melihat anaknya dapat beraktivitas bersama teman-temannya. Sebaliknya orang tua akan merasa sedih jika anaknya tidak ceria, diam saja, dan tidak mau melakukan aktivitas bersama teman-temannya. Untuk itu, perhatian dan kesempatan untuk pertumbuhan serta perkembangan anak perlu diberikan sejak usia dini.
Masa yang paling penting untuk pertumbuhan dan perkembangan motorik anak adalah pada usia lima tahun pertama. Pada masa ini, pertumbuhan saraf dan otot anak mulai berkembang sehingga pada masa ini anak dapat dilatih berbagai macam keterampilan motorik. Keterampilan motorik dapat dilakukan dengan memberikan perangsangan dan kesempatan pada anak sehingga keterampilan lainnya dapat berkembang sesuai dengan usia anak
Proses tumbuh kembang anak dimulai dari perkembangan motorik. Lingkungan yang mendukung seperti perhatian, stimulasi dan fasilitas sangat dibutuhkan untuk perkembangan motorik halus maupun motorik kasar. Biasanya anak umur 2-3 tahun sudah senang bergerak dan melakukan aktivitas fisik. Gerakan yang dilakukannnya pun sudah lebih rumit karena otot-ototnya sudah mulai kuat dan mampu melakukan kegiatan seperti memanjat, melompat dan bergantungan.
Anak yang bugar dan sehat mempunyai semangat untuk bermain dan bereksplorasi, konsentrasi yang baik dalam menerima pelajaran dan mempunyai gairah setiap melakukan aktivitas baik sendiri maupun bersama teman-temannya. Selain itu, anak yang bugar dan sehat juga bisa dilihat dari aktivitasnya, tidurnya nyenyak, buang air lancar, postur tubuh dan daya tahan tubuhnya kuat atau tidak terhadap perubahan cuaca.
Kebugaran penting bagi anak karena kebugaran dapat menunjang anak untuk melakukan aktivitas dan bereksplorasi. Kebugaran dapat diperoleh dengan salah satu cara yakni berolahraga. Anak tidak dipaksakan berolah raga tapi melakukannya sambil bermain.
Melalui gerakan dasar sampai gerakan rumit anak sudah belajar berolahraga asalkan dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan bagi anak.
Kenalkan olahraga pada anak
Keterampilan dasar yang dimiliki anak untuk dapat berolahraga yaitu keterampilan fisik Melalui gerakan dasar anak dilatih untuk mampu melakukan keterampilan fisik mulai dari menggenggam, meraih kemudian dilanjutkan dengan latihan yang lebih kompleks berkaitan dengan olahraga seperti menangkap, melempar, dan menendang.
Lingkungan juga perlu untuk mendukung agar anak dapat mengembangkan keterampilan fisiknya. Keluarga terutama orang tua dapat memberi kesempatan dan perangsangan agar anak mau melakukan gerakan fisik. Kondisi yang menyenangkan akan memudahkan untuk menstimulus anak bergerak. Menyediakan waktu untuk bermain bersama anak dengan permainan yang menyenangkan bisa dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah.
Pentingnya kebugaran bagi anak terutama pada anak usia dini kiranya cukup menjadi perhatian orang tua. Banyak manfaat yang dapat diperoleh bila anak menjadi bugar dan sehat, hal ini nantinya akan berkaitan dengan konsep diri, body image, dan kepercayaan pada diri anak. Latihan dengan gerakan-gerakan yang mudah sampai yang rumit dapat membantu perkembangan motoriknya. Kesabaran dan ketekunan orang tua dalam memperhatikan dan mendukung proses perkembangan motorik anak sangat diperlukan. Perkembangan motorik anak yang baik akan mendukung anak dalam melakukan aktifitasnya. (berbagai sumber)
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
11.13
0
komentar
Label: Keluarga
Rabu
Masa Remaja yang Penuh Kecemasan
Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi sorotan yang tidak lekang waktu. Psikologi sendiri memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress.
Menurut para ahli, setidaknya ada tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja, yakni konflik dengan orangtua, perubahan mood yang cepat, dan perilaku beresiko.
Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian, teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik, sosialita, dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya.
Benarkah demikian? Agaknya para orangtua harus berbesar hati dan membuka diri agar tidak tertipu oleh model rambut, mode pakaian, musik yang berdebum di kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat telinga terasa penuh. Kedekatanlah yang bisa membuka mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai yang sebenarnya dipegang remaja.
Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja, “Bete niiih..” Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita. Pertama, Mood-dependent memory, suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau kedua, Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek. Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.
Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas, membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja.
Intoleransi menjadi kunci penting dalam memahami kecemasan pada remaja. Secara logika bisa dipahami bahwa ketidakmampuan individu dalam menerima ketidakpastian sebagai salah satu kenyataan yang akan dihadapi cukup menggambarkan diri orang tersebut. Hal ini juga menarik untuk kembali melirik teori dan studi tentang diri.
Satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah faktor budaya. Perbedaan budaya memiliki pengaruh pada individu dalam menilai pengalaman emosi. Di masyarakat kolektif, self critical menjadi norma, sementara di masyarakat individual, self enhancement yang berlaku. Hal ini memberikan sedikit petunjuk tentang apa yang menjadi obyek perhatian individu dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Apakah memang faktor eksternal yang lebih menentukan kecemasan remaja di masyarakat kolektif seperti Indonesia, di mana individu akan sangat terganggu jika tidak bisa memenuhi aturan main yang berkembang dengan lingkungan terutama teman sebaya? Ataukah justru pencapaian diri sudah mencuri perhatian remaja sebagai dampak dari era keterbukaan dengan kecanggihan teknologi informasi?
Masa remaja memang penuh fenomena. Peran orang tua jelas sangat penting. Terlebih dalam memberi arah tujuan hidup yang benar kepada anak remajanya.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
18.41
0
komentar
Label: Keluarga