Seiring kemajuan jaman, kecantikan dan sehat kian menjadi penting bagi banyak manusia terutama kaum hawa. Dan lebih dari itu, kecantikan telah menjadi sebuah komoditas bisnis yang sangat menjanjikan, dimulai dari usaha salon kecantikan, gerai spa, atau perawatan kulit.
Bagai tertutup kelambu, banyak wanita saat ini, mulai dari usia ‘baru gede’, remaja, dewasa, dan usia cukup berumur yang menjadi objek dari suatu industri kecantikan untuk merawat kecantikan dan tubuhnya. Mereka ‘dipoles’ habis agar tampil cantik yang terkadang melebihi kapasitas kemampuan fisiknya alias berlebihan.
Menilai kecantikan, tentu tak ada tolok ukurnya, sebab cantik itu adalah relatif. Penilaian tentang kecantikan abstrak dan berubah-ubah, tidak ada standar kecantikan yang pasti, dari jaman ke jaman konsep kecantikan selalu berubah-ubah.
Dalam jaman serba komersil ini citra cantik merupakan sebuah komoditas yang dapat dibuat sesuai persepsi sesuai indutri kecantikan, dan tanpa disadari banyak wanita menjadi korban kecantikan. Banyak industri mempersepsikan kecantikan dengan menampilkan sosok wanita yang ideal.
Menggeluti bisnis yang bergerak di bidang kecantikan dan perawatan tubuh dalam era sekarang, ternyata tidaklah mudah. Di samping dituntut menguasai keterampilan, juga mutu pelayanan kepada kunsumen harus bagus.
Dalam bisnis kecantikan dan perawatan tubuh, pelayanan yang berkualitas menjadi kunci sukses. Dan yang disebut dengan pelayanan tidak lagi hanya sekedar memberi layanan berupa potong rambut yang apik atau layanan facial yang aduhai tapi lebih mengarah kepada bagaimana melayani konsumen, entah itu sekedar berbicang atau mempersilahkannya untuk masuk.
Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya setiap salon kecantikan memiliki layanan jasa yang hampir sama. Perbedaan mungkin hanya berada di sektor harga, dan itupun tidak terlalu signifikan.
Beralih ke segi prospek bisnis kecantikan dan perawatan tubuh di komunitas, terbilang layak untuk ditekuni. Sebab masyarakat umum begitu banyak yang memerlukan jasa gerai penyedia layanan kecantikan dan perawatan tubuh. Entah itu sekedar potonga rambut atau layanan lain yang lebih berat seperti lulur, spa, atau menghilangkan lemak berlebih.
Untuk meraih sukses, perlu dukungan keahlian serta kemampuan pelaku bisnis salon kecantikan, guna memberikan pelayanan yang memuaskan. Lebih dari itu, banyaknya gerai usaha kecantikan dan perawatan tubuh yang bermunculan semakin membuat persaingan bisnis menjadi makin ketat. Dan yang paling kentara adalah persaingan dalam hal tarif.
Bisnis kecantikan dan perawatan tubuh tampaknya menetapkan tarif yang hampir sama alias tak jauh beda. Entah dikordinir atau tidak, dari hasil di lapangan tarif jasa salon sepertinya memiliki kesepakatan atau ada standarisasinya.
Bisnis kecantikan dan perawatan tubuh terbilang sebagai salah satu bisnis yang dapat bertahan sepanjang masa. Gerai usaha bidang ini akan selalu dicari konsumennya, terutama para wanita.
Jumat
Bisnis Kecantikan dan Perawatan Tubuh - Komersialisasi Merawat Raga
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.12
0
komentar
Label: Kolom
Sabtu
Bengkel Mobil, Biar Krisis Tetap Eksis
Jumlah mobil setiap tahun di dalam negeri meningkat. Hal ini menjadikan peluang bisnis kewirausahaan bengkel mobil, khususnya untuk perawatan dan perbaikan mobil terbuka lebar dan prospeknya juga terbilang cukup bagus.
Ledakan populasi kendaraan roda empat dalam beberapa tahun terakhir telah memacu kebutuhan jasa pemeliharaan dan perbaikan. Di sisi lain, daya tampung bengkel resmi yang terbatas membuka peluang bagi calon wirausahawan baru menggarap bisnis bengkel mobil ini.
Potensi menggarap bengkel mobil jelas besar. Dengan menyediakan pelayanan yang prima serta bervariasi, konsumen akan tertarik untuk datang. Jika sudah suka, biasanya konsumen enggan berpaling ke bengkel lain.
Memulai bisnis bengkel mobil, juga bisa kata tidak mudah. Pasalnya, mobil perlu penanganan khusus. Tapi jika sudah ahli, membuka bengkel mobil jadi perkara mudah. Tinggal bagaimana mengelolanya saja.
Dari beberapa bengkel yang ditemui AdInfo, sebagian di antaranya ada yang memiliki cabang. Ini menandakan, bengkel mereka sebelumnya terbilang sukses. Jadi, dengan membuka cabang, berarti potensi menambah keuntungan makin terbuka.
Sekali lagi, sebelum mengembangkan usaha, yang terpenting jelas pengalaman. Bagian mana saja yang disukai atau dibutuhkan konsumen bisa ditambahkan.
Bicara soal tarif jasa, di bisnis bengkel mobil uang yang masuk tidaklah sedikit. Maklum, biaya jasa servis mobil paling kecil adalah ratusan ribu. Kemudian untuk spare part, lebih dahsyat lagi, bisa jutaan rupiah. Satu bengkel saja yang masuk ke bengkel, keuntungannya sudah terlihat jelas.
Tapi, di bisnis bengkel mobil, jangan terlalu besar mengharap untung melulu. Jangan pernah melupakan kualitas kerja. Konsumen sekarang jelas sudah pintar. Jika merasa tidak puas, dijamin si konsumen itu tidak akan balik lagi. Sudah tarifnya mahal, kualitas kerjanya tidak memuaskan.
Model bengkel yang seperti ini, biasanya tidak akan berlangsung lama. Dalam sekejab, keburukan yang ada akan tersebar lewat cerita konsumen yang kecewa. Ini sudah pasti merugikan.
Bisnis bengkel mobil di komunitas Serpong terbilang luar biasa berkembang. Dukungan dari pada developer yang ada semakin memudahkan bisnis bengkel mobil untuk maju.
Di sisi lain, konsumen atau para pemilik mobil dibuat senang karena bengkel mobil yang berkualitas dekat dengan tempat tinggalnya. Sekarang, menservis mobil tak perlu jauh-jauh pergi ke Jakarta.
Selama para produsen mobil terus memproduksi mobil. Selama itu pula bengkel mobil akan selalu dibutuhkan. Bagi yang hendak terjun di bisnis ini, segerakan saja diwujudkan. Tak perlu menunggu lama.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
11.32
0
komentar
Label: Kolom
Senin
Bimbel, Ramai Menjelang Ujian
Lembaga pendidikan bimbingan belajar atau bimbel berperan besar dalam mengangkat prestasi siswa. Materi-materi pelajaran diajarkan kepada siswa dengan pendekatan yang lebih personal. Dengan kelas yang umumnya hanya diikuti sedikit siswa, kegiatan belajar mengajar dirasa makin efektif hasilnya.
Melihat bimbel sebagai peluang usaha, agaknya memang sedikit riskan. Tak seperti usaha jasa lainnya, bimbel hanya berpotensi meraih konsumen manakala mendekati ujian. Kondisi seperti inilah yang banyak dikeluhkan para pengusaha bimbel yang dijumpai AdInfo.
Menurut para pengusaha bimbel tadi, menjelang semester dua bimbel mulai banyak didatangi pelajar. Di masa ini, para pelajar yang datang biasanya ingin mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian, baik ujian kenaikan kelas atau ujian akhir.
Mengelola usaha bimbel sepertinya juga susah-susah gampang. Dibilang sulit karena faktor sumber daya manusia tenaga pengajarnya. Selain harus benar-benar menguasai bidang mata pelajaran yang diajarkan, tenaga pengajar yang ada juga harus mengusai atau setidaknya mengerti berbagai kurikulum dari bermacam sekolah. Maklum, murid-murid bimbel tidak hanya datang dari satu sekolah, melainkan dari bermacam sekolah, dengan latar belakang konsep dan gaya pendidikan yang berbeda-beda.
Sementara itu, usaha bimbel dapat dikatakan mudah untuk dijalankan karena tidak perlu tempat atau lokasi yang istimewa. Cukup ada meja dan kursi untuk belajar, bimbel sudah bisa dijalankan.
Sebenarnya ada banyak hal lain yang ada jika bicara tentang pengelolaan usaha bimbel. Namun, sebagai langkah awal, tentulah mempersiapkan tenaga pengajar dan lokasi.
Membahas tentang peranan bimbel, bimbel sebenarnya hadir untuk mendukung sekolah. Jika pendidikan di sekolah dilakukan dengan cara yang cepat dan umumnya dengan siswa yang jumlahnya banyak, maka di bimbel materi pelajaran benar-benar diberikan hingga si murid mengerti dan kelas diadakan dengan murid yang terbatas.
Bimbel memang tidak semata bisa dikata sebagai tempat mendulang rupiah. Di dalam bimbel tersirat idealisme untuk mencerdaskan anak bangsa. Jadi janga heran jika kebanyakan bimbel yang ada dikelola oleh orang-orang yang peduli dengan pendidikan. Sementara, bimbel yang murni berorientasi pada profit masih sangat jarang ditemui. Dan jika pun ada, konsepnya akan mendekati sekolah, dengan target mendapatkan siswa sebanyak-banyaknya.
Kendala yang juga ditemui oleh para pengusaha bimbel adalah ketidakpahaman orangtua siswa. Apalagi bagi orangtua yang sibuk. Sebagian orangtua ada yang beranggapan, jika sudah ikut bimbel, les, atau kursus pelajaran lainnya, maka si anak sudah dipastikan akan mendapat nilai yang bagus. Padahal, tidak serta merta seperti itu. Orangtua juga harus berperan aktif dalam mendidik dan memotivasi anak-anaknya untuk belajar.
Kondisi seperti inilah yang sangat disayangkan. Seolah-olah, hanya dengan membayar dan ‘menitipkan’ si anak pada bimbel, maka prestasinya akademisnya akan naik. Pemahaman ini harus dirubah, karena tidak selamanya kepandaian itu bisa dibeli dengan uang. Jika ingin berhasil tentu butuh usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya.
Belakangan ini, bimbel memang tengah ramai dengan diisi murid-murid baru. Menjelang ujian adalah masa-masa bimbel mendulang berlian. Meski begitu, beban yang dipikul sebuah bimbel tidaklah ringan. Sebab sedikit banyak bimbel bertanggungjawab terhadap peningkatan prestasi belajar anak didiknya.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.40
0
komentar
Label: Kolom
Jumat
Kursus Seni dan Peluangnya
Melihat berbagai ulasan tentang manfaat seni, sepertinya berbisnis usaha kursus seni menjanjikan. Banyak orangtua masa kini yang peduli dengan kemampuan seni dan kreatifitas anak-anaknya. Jika disimpulkan, ini berarti kursus seni adalah sebuah peluang bisnis.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki prospek hidup yang cerah apa pun bidang yang ia geluti sekarang. Hanya saja peluangnya agak sedikit berbeda, jika mereka membaluti dirinya dengan ilmu seni dan juga formal.
Lihat saja rentetan manfaat yang bisa di dapat dari proses belajar seni. Pastinya sangat berguna bagi kehidupan anak di masa depan. Apalagi jika dimbangi dengan ilmu akademik dan juga semangat juang yang tinggi. Pastinya akan semakin dekat saja dengan kesuksesan, siapa pun orangnya.
Jika masih tak percaya, coba lirik kehidupan di Indonesia sekarang. Berapa banyak orang pintar yang sengsara karena tak punya keahlian. Atau lihatlah para sarjana muda yang tak mampu bekerja karena minimnya skill mereka.
Kalau dikaji ulang, sepertinya ada yang salah dengan pendidikan kita. Alih-alih membuat orang pintar hanya lewat pendidikan formal, malah sengsara karena tak bisa bekerja. Ijazah yang mereka banggakan dan miliki saat ini tak mampu beri banyak harapan. Sedang skill yang diinginkan perusahaan, tak mampu diwujudkannya.
Kalau sudah seperti ini, bukankah sangat menyesatkan. Lalu bagaimana caranya untuk terhindar dari hal itu? Jawabannya adalah dengan memfungsikan peran otak kiri dan kanan secara maksimal. Artinya, bekali diri dengan ilmu akademik dan juga seni Agar lebih fokus, ada baiknya proses pembelajaran seni dilakukan di tempat kursus. Sedang pendidikan formal dilakukan di sekolah.
Kursus seni sedang berkembang saat-saat ini. Banyak orangtua muda yang mulai peduli dengan kemampuan seni anak-anaknya. Beragam jenis kursus seni pun bermunculan. Ada yang besar di komplek pertokoan, dan ada yang kelas sedang di kawasan perumahan.
Soal modal, sepertinya tak akan terlalu besar. Untuk memulai usaha kursus seni, bias dimulai dari rumah. Yang terpenting, kita punya kemampuan untuk mengajar, tentunya dalam bidang seni yang kita kursuskan. Kalaupun tak bias, carilah tenaga pengajar yang cukup kemampuannya. Dan akan lebih hemat upah kerjanya, jika guru yang direkrut adalah anak-anak muda yang minim jam terbang tapi punya kemampuan.
Sementara itu, seperti bisnis pendidikan lainnya, membuka kursus seni harus punya program pendidikan yang jelas. Pada akhirnya kemana para murid akan dibawa. Dengan program kerja, itu berarti Anda yang mengelola kursus seni punya tujuan, bukan sekedar mengisi waktu luang.
Berbisnis kursus seni tetap saja tidak mudah. Akan ada kendala dan rintangan di sana-sini pada nantinya. Yang paling dekat, mungkin adalah betapa sulitnya mendapatkan murid. Dan itu banyak terjadi di tempat-tempat kursus seni yang sudah ada.
Para murid di tempat kursus, barangkali tidak hanya di kursus seni, dating silih berganti. Datang satu keluar satu, begitu terus selanjutnya. Mengapa begitu? Maklum saja, target utama dari kursus seni kebanyakan adalah anak-anak. Dan anak-anak biasanya cepat bosan, dan menyukai hal baru. Anak-anak akan bertahan lama jika dipaksa orangtuanya.
Datang dan perginya murid adalah hal yang wajar. Tinggal bagaimana si pengelola kursus menerapkan strategi yang jitu untuk mendatangkan siswa-siswa baru. Tentu saja program pendidikan yang ditawarkannya harus dinamis dan senantiasa dikembangkan setiap saat. Dengan inovasi, kursus seni yang ada semakin berkualitas dan kian diminati masyarakat.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
13.38
0
komentar
Label: Kolom
Kamis
Jangan Dulu Bicara Prestasi Olahraga
Di masa yang serba komersil seperti sekarang ini, segala sesuatunya butuh uang, termasuk untuk mengeluarkan keringat dengan berolahraga. Akibat minimnya lahan, olahraga harus dibayar dengan uang.
Menyedihkan memang ketika ingin mendapat badan yang sehat harus dibayar dengan uang. Tapi apa daya, karena semakin sedikitnya fasilitas olahraga yang gratis, mau tak mau kita yang hendak berolahraga harus rela sedikit merogoh kocek.
Di komunitas Serpong dan Karawaci sendiri, banyak tempat yang menyediakan jasa penyewaan sarana untuk berolahraga. Pun demikian, bagi warga komunitas kita ini, keluar uang sedikit asal sehat rasanya tak jadi soal. Selama itu menyenangkan dan dalam batas-batas kewajaran, semuanya sah-sah saja.
Tujuan dari olahraga tentu adalah sehat. Dengan raga dan jiwa yang sehat, maka pikiran kita juga akan semakin ‘sempurna’ daya konsentrasinya. Jika begitu, semoga saja apa yang kita kerjakan bisa berhasil, berjalan sesuai harapan.
Banyak pilihan tempat olahraga di komunitas tercinta ini. Bagi yang serius, atau yang bercita-cita menjadi atlet olahraga profesional, beberapa tempat memang lahir untuk menjadikan anggotanya menjadi atlet pro. Luar biasa bukan.
Sementara itu, bagi yang hanya ingin sekedar cari keringat, tempat olahraga yang murah meriah juga ada. Asal bisa bergerak dan memacu jantung, tempat seadanya sudah cukup.
Olahraga sudah jadi kebutuhan. Bahkan tak sedikit masyarakat yang menjadikan olahraga sebagai suatu gaya hidup alias kemewahan. Akibat komersialisasi, olahraga menjadi bagian dari symbol kemapanan.
Di luar negeri, olahraga benar-benar dipuja, dihargai setinggi langit. Lain halnya di tanah air. Di masa jayanya, seorang atlet akan dikalungi berjuta pujian, tapi begitu pamornya turun atau setelah pensiun, masyarakat akan dengan cepat melupakannya. Tragis memang, tapi seperti itulah kenyataannya.
Bicara tentang prestasi, olahraga nasional sepertinya hanya berjalan di tempat. Apapun bidang olahraganya, selalu saja jauh dari juara. Belum lagi atlet yang bertanding itu-itu saja, seakan tak ada gantinya. Sebenarnya, apa yang salah dengan olahraga di tanah air, atletnya, pelatihnya, pengurusnya, atau pemerintahnya?
Terlalu rumit bagi kita yang ada di komunitas Serpong dan Karawaci ini untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Yang kita bisa hanyalah terus berolahraga agar bisa sehat, kendati harus membayar.
Olahraga adalah suatu kebiasaan yang baik. Apalagi jika dibiasakan sejak dini. Jika semua anak di negeri ini rajin berolahraga, tentu semuanya akan sehat, dan kedepannya, akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang berbadan sehat sekaligus memiliki jiwa yang sehat pula. Sehingga pada akhirnya, akan mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang benar-benar membela kepentingan rakyat.
Sementara itu, membisniskan olahraga sebenarnya bukan hanya sekedar wacana. Olahraga punya potensi untuk ‘diuangkan’. Apalagi di komunitas ini, masyarakatnya sudah sangat peduli dengan olahraga. Jika pandai dan jeli melihat peluang, berbisnis olahraga akan jadi suatu pilihan yang tepat, sekaligus bermanfaat untuk orang lain. Ingin berbisnis olahraga, kenapa tak mencoba?
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
12.15
0
komentar
Label: Kolom
Rabu
Siap Saingi Produsen Besar
Melengkapi isi bangunan, jelas furnitur sangat dibutuhkan. Selain keberadaannya, fungsi furnitur sendiri juga sangat penting. Produk furnitur, apapun bentuknya pasti memiliki peran untuk membantu aktivitas pemiliknya.
Bisnis furnitur terus bergeliat. Meski tengah didera krisis ekonomi global, bisnis furnitur tetap bertahan, karena selalu dicari konsumen. Perlahan, furnitur mulai menjadi bagian dari kebutuhan pokok.
Pangsa pasar furnitur sungguh sangat terbuka luas. Semua lapisan masyarakat butuh furnitur. Oleh karena itu, keberadaan gerai usaha furnitur akan selalu dicari.
Peluang usaha di bisnis furnitur tetap terbuka. Meski banyak kendala di sana-sini, dari pembahasan sebelumnya, bermain di bisnis furnitur tetap dapat diandalkan. Hanya saja, untuk dapat bertahan, si pengusaha harus mampu membaca pasar serta melihat apa yang diinginkan.
Variasi produk serta harga jual yang bersaing adalah dua di antara sekian banyak syarat untuk bergelut di bisnis furnitur. Konsumen yang beragam, memiliki selera yang bermacam-macam, karena itu, produk yang tersedia harus banyak pula pilihannya. Sementara untuk harga jual, agar dapat bersaing dengan gerai usaha yang lain, harga yang ditawarkan harus sesuai pasar.
Kualitas juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi konsumen dalam memilih produk furnitur yang akan dibelinya. Tak hanya masyarakat atas yang peduli kualitas, masyarakat dari lapisan menengah juga mulai mementingkan mutu produk.
Melihat fenomena itu, bisnis furnitur jelas bukan bisnis main-main. Butuh keseriusan dalam menggarap usaha ini. Masyarakat atau konsumen mulai pintar dalam menyeleksi toko furnitur beserta produknya.
Mengelola gerai usaha furnitur juga jangan hanya berpangku tangan menunggu pembeli. Inovasi harus selalu dilakukan agar terus berkembang.
Dari penelusuran AdInfo, saat-saat ini, banyak pelaku usaha bisnis furnitur mulai merambah ke bidang produksi furnitur. Jika sebelumnya gerai-gerai furnitur hanya menjadi kepanjangantangan dari pabrik-pabrik furnitur besar, sekarang mereka sudah mampu membuat sendiri produk furnitur dan langsung memasarkannya di gerai usahanya.
Yang paling banyak ditemui di komunitas ini adalah produksi sofa. Para pengusaha furnitur lokal sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk memproduksi sofa sendiri. Dan sejauh ini, respon dari konsumen terbilang cukup positif. Bahkan beberapa pengusaha tadi sudah ada yang mensuplai produknya ke gerai-gerai furnitur lain.
Berbekal kepercayaan diri dan keberanian, bukan tidak mungkin aksi pengusaha lokal ini mampu menyaingi pabrik-pabrik furnitur besar. Produk-produk pabrik yang bermutu standar serta dibuat massal, bisa jadi akan ditinggalkan konsumen pada suatu saat nanti.
Tak hanya memoles produk, pelayanan juga penting dalam bisnis furnitur. Kebanyakan gerai usaha furnitur di kawasan Serpong juga telah menyediakan layanan purna jual yang cukup baik. Beberapa di antaranya juga ada yang sanggup memberi garansi hingga hitungan tahun.
Dengan kualitas produk yang bagus, harga bersaing, serta layanan purna jual yang prima, jelas akan membuat konsumen terpikat. Langkah-langkah seperti itu memang sangat dibutuhkan untuk bersaing dalam bisnis furnitur.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.27
0
komentar
Label: Kolom
Selasa
Sehatnya Bisnis Pijat
Pada mulanya, pijat hanyalah bagian dari teknik pengobatan yang bersifat alternatif. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, pijat berganti wajah menjadi sebuah industri komersil. Dengan variasi teknik pemijatan dan penataan ruang pijat, wujud pijat sebagai bisnis elegan mulai terlihat.
Pijat hadir bermacam jenis. Ada pijat untuk kesehatan dan ada pula pijat untuk relaksasi. Namun, dengan pengemasan yang apik, pijat memiliki nilai jual yang makin tinggi. Lebih dari itu, para terapisnya yang kian terampil juga menjadikan pijat sebagai bisnis yang menjanjikan.
Banyak gerai pijat hadir di komunitas kita. Sebagian besar dari gerai pijat tersebut, berdiri megah di komplek-komplek pertokoan. Penampilan fisik gerainya pun tidak asal-asalan. Semuanya tampak indah dan eksklusif.
Warga komunitas kita sendiri pun mulai engeh dengan pijat. Mereka mulai memandang pijat sebagai kebutuhan, yang lebih mengarah pada kebutuhan kesehatan. Masing-masing gerai pijat yang ada tampak memiliki pelanggan setianya masing-masing.
Sementara itu, persaingan jelas ada dalam bisnis pijat di komunitas. Bagaimana tidak, sebagai contoh, dalam satu komplek pertokoan bisa ada 3 atau 4 gerai pijat dengan layanan yang sama dan harga yang hampir sama pula.
Jika diperhatikan, fenomena ini sepertinya dapat dijadikan acuan jika bisnis pijat bukanlah bisnis sebelah mata. Bisnis pijat bisa mendulang rupiah, meski persaingan berlangsung ketat.
Menyikapi persaingan, tentu dengan kualitas layanan dan harga yang terjangkau dan bersaing. Sebagai gambaran, tTarif pijat di komunitas, saat ini berkisar antara Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per jam, per satu jenis pijat. Tarif memang tak beda jauh, lalu apa yang menjadikan satu gerai pijat berbeda dengan yang lain?
Yang membedakan adalah layanan pijat (jenis) dan tenaga pemijatnya. Kedua hal ini menjadi pertimbangan para konsumen untuk menikmati layanan pijat, apakah layanan pijatnya banyak atau bermacam-macam dan tenaga pemijatnya terampil atau tidak. Jika kedua hal ini sudah terpenuhi dengan baik, biasanya konsumen akan setia pada satu gerai. Soal pijat memang terkait dengan cocok atau tidak antara konsumen dengan tenaga pemijat.
Konsumen bisnis pijat, sekarang ini sudah sangat terbuka luas. Bukan lagi orang penyakitan maupun orang-orang tua yang sudah renta. Pijat masa kini bisa dinikmati siapa saja, anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam perjalanannya, bisnis pijat sempat memiliki lembaran hitam karena erat dikaitkan dengan bisnis prostitusi terselubung. Tapi, perlahan bisnis pijat mulai menghilangkan citra negatif itu dan menampilkan fungsi yang sesungguhnya. Kini pijat benar-benar untuk kesehatan, bukan untuk hal yang macam-macam.
Masyarakat sendiri mulai sadar dengan perubahan citra itu. Masyarakat tak lagi segan untuk bertandang ke tempat pijat. Sesungguhnya masyarakat memang butuh akan pijat, bukan layanan ‘plus-plus’-nya.
Kesimpulan sederhananya, bisnis pijat memiliki potensi komersil yang cukup baik. Namun, bagi Anda yang ingin memulai bisnis ini, sebaiknya memahami suatu teknik pijat dengan baik. Pasalnya, pijat memang berkaitan dengan kesehatan, saraf, dan urat. Jika memijat dengan asal, bukannya sehat malah sakit.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.39
0
komentar
Label: Kolom
Sabtu
Peran Perempuan dan Kesempatan
Oleh : Dewi AnggRAENI Sudarwati DJOEMENA SIMANJUNTAK
www.raenirepublikan21.com
Perlahan tapi pasti, dikotomi peran perempuan dan laki-laki mulai terkikis. Bukan hanya karena alasan ekonomi bila banyak perempuan yang bekerja di pom bensin atau menjadi supir busway. Di balik itu semua, mereka pun ingin menunjukkan eksistensinya yang memiliki hak sama dengan laki-laki.
Perempuan dalam tataran keluarga, masyarakat, maupun birokrasi sering dinomerduakan. Mereka dianggap tidak mampu secara fisik, pikiran, dan tanggung jawab. Stereotip gender seperti itu memang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Apalagi budaya patriarki di negara kita begitu melekat dalam masyarakat.
Perlu adanya kemauan dan tekad kaum perempuan untuk merubah itu semua. Seperti yang dikatakan Kiekeegaard dalam artikel Simon Beauvoir, eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan.
Bercermin dari kalimat di atas, tidak ada salahnya bila wanita berjuang untuk “kebebasan”. Mendapatkan haknya dan bisa mengaktualisasikan diri dalam berbagai bidang.
Pemerintah sendiri, baik dalam UUD 1945 atau GBHN 1978 sampai 1999, sebenarnya telah mencantumkan persamaan hak, kewajiban, dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam segala aspek pembangunan.
Sama halnya ketika pemerintah meratifikasi Konvensi ILO No. III dengan UU No. 80 Tahun 1957 tentang pengupahan dan jenis pekerjaan. Pun ketika meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
Meski begitu, pengejawantahan dari aturan-aturan tersebut serasa berjalan lamban. Mungkin baru 10 tahun belakangan, baru ada wanita Indonesia yang menjabat sebagai presiden atau bekerja di perkantoran-instansi pemerintah- menjadi pengusaha.
Dalam Politik dan Publik
Peran perempuan di tengah masyarakat atau publik dengan cara ikut bekerja dan beraktifitas bersama-sama dengan laki-laki, sering mengalami benturan-benturan tertentu. Hal tersebut karena ketika terjun ke dunia publik, perempuan masih memiliki “beban” untuk memegang urusan domestik (mengurus rumah tangga dan keluarga). Sehingga perempuan sendiri kerap menjadi bingung. Mana yang harus didahulukan.
Sementara laki-laki sendiri, masih ada yang tidak sependapat kalau perempuan ikut bekerja. Meski tidak terlihat jelas, sepertinya diskriminasi perempuan masih terus berjalan. Perlakuan tersebut seperti bayang-bayang, ada tapi tiada.
Saat ini, perempuan mulai lebih giat memerjuangkan eksistensinya. Di daerah perkotaan, perempuan mulai mendobrak superioritas laki-laki. Sedikit demi sedikit, perempuan mulai berperan dalam segala bidang.
Hal tersebut mengindikasikan kalau kesempatan perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan keluar dari dominasi laki-laki atau menjadi objek, semakin terbuka lebar. Termasuk ketika perempuan diberi “jatah” sebanyak 30% untuk menjadi anggota legislatif dalam Pemilu 2009 nanti.
Perempuan diharapkan bisa merubah wajah anggota legislatif dan berkiprah dalam dunia politik. Hal ini bisa menjadi kesempatan emas buat perempuan dalam menunjukkan eksistensinya. Tapi di sisi lain, kredibilitas mereka sebenarnya dipertaruhkan, apakah mereka bisa mengemban tugas dan memerjuangkan aspirasi masyarakat?
Ada perbedaan dalam kepemimpinan perempuan dan laki-laki. Dalam menjalankan peran sebagai pemimpin, perempuan mempunyai karakteristik, yaitu percaya diri, disiplin, memimpin orang lain bukan menguasai orang lain, bersikap tegas, bekerja untuk kepentingan orang lain, kerja keras, berkompetensi diri, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan (Elly Fardiana Latief, “Menguak Persoalan Perempuan Dalam Birokrasi”).
Bagi perempuan sendiri, hal tersebut di atas, seharusnya bisa menjadi lampu hijau untuk menunjukkan eksistensi dan memerjuangkan aspirasi kaumnya. Sudah sepatutnya mereka tidak menyiakan peluang dan mampu berdiri sendiri. Keluar dari bayang laki-laki dan menunjukkan kemampuan perempuan yang sering kali dipandang sebelah mata.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
09.06
0
komentar
Label: Kolom
Kamis
Ada Potensi di Bisnis Roti
Seperti kita ketahui, roti merupakan makanan utama orang barat. Namun kini, roti semakin diminati masyarakat Indonesia. Terbukti dengan banyaknya gerai usaha atau cafe yang menjual roti, baik sebagai menu pelengkap atau menu andalannya. Dan dalam kebiasaan masyarakat kita, roti sering disantap pada saat sarapan.
Karena perubahan gaya hidup, roti menjadi tren tersendiri di dunia kuliner. Bahkan, para pengusaha roti berlomba-lomba untuk menciptakan varian atau jenis baru yang tentunya berbeda dengan varian yang sudah ada. Tujuannya sudah pasti, apalagi kalau bukan untuk menarik minat para penggemar roti.
Bicara tentang bisnis roti, kue atau cake, sudah pasti siapa saja bisa masuk ke bisnis ini. Meski begitu, untuk bergelut di bidang ini harus punya keberanian yang luar biasa. Apa sebab? Sudah pasti karena persaingan. Pelaku usaha bisnis roti dan kue beragam stratanya, dari pembuat roti kelas rumahan hingga mereka yang bermodal kuat dan mampu menyewa tempat di mal-mal bergengsi.
Persaingan di bisnis roti dan kue saat ini lebih ketat lagi. Mundur ke belakang, jika dulu hanya ada pemain lokal, kini pemain asing pun agresif menyerbu Indonesia. Maka, agar tak sekadar hidup atau untung dari bisnis ini, masing-masing pebisnis roti dan kue wajib memiliki amunisi andalan seperti rasa enak, harga murah, inovasi atau gaya hidup.
Pelaku bisnis roti dan kue jika ingin bertahan harus cerdik melihat peluang usaha sebagai kesempatan. Memang tidak setiap pebisnis mampu menerapkannya. Pengalaman dan naluri bisnis yang tajam amat membantu mereka untuk membaca situasi di mana harus masuk. Ini berlaku bukan hanya bagi pengusaha besar, namun juga pengusaha kecil. Hal yang seringkali dianggap sepele, namun hasilnya bisa dahsyat sebab pengusaha kecil dalam waktu singkat bisa menjadi besar.
Banyak gerai usaha roti dan kue hadir di komunitas kita. Lokasinya pun terpencar, mulai dari gerai di dalam mal, ruko pinggir jalan, hingga usaha rumahan. Masing-masing dari mereka menawarkan cita rasa roti dan kue yang mantap. Perbedaannya, hanya ada pada segmen pasar yang dituju.
Belakangan, dalam satu tahun terakhir, beberapa gerai baru roti dan kue bermunculan di kawasan Serpong dan sekitarnya ini. Ini menandakan, bisnis roti dan kue memiliki potensi untuk dikembangkan. Melihat pangsa pasarnya yang begitu luas, roti dan kue tetap akan diminati meski bukan makanan utama.
Sekilas tentang roti
Seperti disebutkan dalam laman harian-lobal.com, roti di dunia mulai dibuat tahun 2600 SM oleh bangsa Mesir. Mereka juga mengenal ragi sejak 3500 SM sebagai bahan utama roti. Bangsa Romawi pun membuka sekolah spesial roti pada abad 98-117 M.
Berbagai catatan sejarah membuktikan bahwa roti dan ragi merupakan bahan makanan utama bangsa Mesir dan Romawi. Bangsa Mesir mengenal sebutan “roti matahari” karena mereka selalu menjemur adonan roti yang sudah dicampur dengan ragi di bawah sinar matahari agar mengembang sempurna.
Bangsa Romawai tak kalah serius untuk urusan roti, karena roti merupakan makanan utama mereka. Bangsa Romawi mempunyai sekitar 260 pembuat roti yang hebat pada masa 100 SM. Mereka sudah membuat roti untuk dijual. Karena itu para tukang roti itu mengembangkan aneka roti dengan sentuhan beragam cita rasa.
Dua ribu tahun lebih, ternyata teknik membuat roti tetap dikembangkan dengan penyesuaian teknologi. Sekarang banyak sekali bahan dan alat yang bisa mendukung proses pembuatan roti hingga enak dan empuk. Seperti halnya roti tawar, kini tampil dalam beragam racikan tepung gandum dan paduan aneka bahan.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
09.53
0
komentar
Label: Kolom
Selasa
Kurikulum Internasional, Revolusi Pendidikan Lokal
Tak dipungkiri, pihak swasta memiliki peran besar dalam mengembangkan pendidikan di tanah air. Tantangan globalisasi serta tuntutan modernisasi pendidikan pada era teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan munculnya sekolah-sekolah modern berbasis pendidikan internasional.
Medio 90-an, masyarakat penyelenggara sekolah swasta merintis pendidikan berciri internasional. Memakai bahasa pengantar bahasa Inggris, menyewa guru ekspatriat, serta mengedepankan aplikasi teknologi informasi. Ditambah dengan era reformasi, gejala pembukaan sekolah sejenis semakin menjamur. Sekolah-sekolah seperti ini biasa disebut dengan sekolah nasional plus.
Kurikulum yang terkombinasi antara kurikulum asing dan nasional menjadi ciri utama dari sekolah nasional plus. Istilah ‘plus’ sendiri dipakai untuk menunjukkan kelebihan dibanding sekolah biasa. Kelebihannya itu bisa bermacam-macam, bisa kurikulum, fasilitas, atau tenaga pengajarnya.
Di komunitas kita, cukup banyak sekolah nasional plus. Umumnya mereka bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan internasional, untuk menyelenggarakan satu kurikulum tertentu. Pun demikian, kurikulum asing itu tidak serta merta dipakai begitu saja. Para praktisi sekolah nasional plus yang ditemui AdInfo mengaku mereka tetap memasukan kurikulum nasional –meski sebagian- serta tetap menjunjung nilai-nilai budaya Indonesia.
Salah satu contoh kurikulum pendidikan yang internasional adalah yang disebut International Baccalaureate Program, yang disingkat IB. Institusi ini dibentuk pada 1968 dan berpusat di Swiss. Beberapa negara maju, termasuk di dalamnya beberapa lembaga pendidikan, pada waktu itu bersepakat membentuk wadah pendidikan yang memungkinkan lulusannya dari mana pun memiliki akses ke perguruan tinggi di negara-negara maju tanpa harus mengikuti seleksi masuk ke perguruan tinggi yang bersangkutan. Program IB inilah yang betul-betul internasional dan sudah dilaksanakan oleh lebih dari 100 negara di dunia.
Di Indonesia, program IB sudah dipakai oleh beberapa sekolah swasta. Program IB ini sangat berat persyaratannya. Sekolah-sekolah penyelenggara program IB ini harus mendapat sertifikasi dari International Baccalaureate Organisation atau IBO dengan pengawasan berkala yang cukup ketat.
Tujuan akhir dari penggunaan kurikulum internasional tersebut, satu di antaranya adalah memudahkan proses melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mengapa bisa begitu? Di luar negeri, kurikulum internasional seperti IB atau kurikulum dari Cambridge University sudah begitu dikenal, dan diakui kualitasnya. Sehingga, pelajar yang berlatar belakang pendidikan kurikulum ini dapat dengan mudah masuk ke perguruan tinggi di luar negeri.
Lain halnya dengan kurikulum nasional. Karena bersifat lokal, pelajar dengan latar belakang pendidikan kurikulum nasional terpaksa harus mengambil kelas persiapan sebelum masuk ke perguruan tinggi di luar negeri.
Pun demikian, dengan sudut pandang yang objektif, kurikulum internasional dan nasional, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Pada akhirnya, akan kembali lagi kepada siswa dan orangtuanya untuk memilih pendidikan seperti apa yang diinginkannya.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.20
0
komentar
Label: Kolom
Woro-woro Kampanye Online - Oleh : Ardi*
Hiburan apa yang pasti ada ketika kampanye politik? Panggung dangdut! Jenis musik ini harus ada karena identik dengan rakyat jelata. Tokoh-tokoh politik mencari simpati dengan cara bernyanyi bersama, meski sering terdengar sumbang.
Tidak menjadi masalah, biar terdengar pales, dipaksakan agar terlihat kebersamaanya dan terkesan down to earth. Sambil bernyanyi, mereka menyuarakan suara partainya. Mudah-mudahan, rakyat yang lagi asyik-masyuk berdangdut ria mau memberi suara saat pencoblosan nanti.
Sekarang kita lihat kampanye Pemilu di Amerika Serikat. Tentu kandidat presiden di sana tidak memanggil artis dangdut dalam kampanye. Tapi, seperti Barrack Obama, dia menggunakan internet sebagai media kampanyenya. Sekaligus menangkap donatur yang ingin mendukung pencalonannya di Gedung Putih.
Obama memanfaatkan situs-situs interaktif sosial seperti Youtube, Facebook, Friendster, dan blog untuk menangkap massa. Belum lagi official website-nya. Di situ, masyarakat di negeri Paman Sam atau seluruh dunia, bisa melihat berita, kegiatan, bahkan merchandise yang mendukung pencalonannya.
Fenomena sukses kampanye online Obama banyak disorot masyarakat dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Beberapa partai politik sudah menyiapkan situs-situs online untuk membantu memerebutkan suara rakyat dalam Pemilu 2009 nanti. Partai politik terinspirasi kampanye online Obama?
Coba saja cari melalui Google atau Yahoo, sebagian besar partai politik sudah menyiapkan situsnya. Meski tidak semua siap digunakan alias “maaf, situs ini masih dalam perbaikan”, namun gejala ini sudah menimbulkan perbedaan metode kampanye saat 5 tahun silam.
Partai-partai politik tersebut ingin menggapai suara pengguna internet. Sekaligus menggunakan teknologi informasi yang lebih modern. Tapi, apa pengguna internet di Indonesia sudah sebanyak di Amerika? Di negeri kita, hanya mereka yang hidup di perkotaan saja dan mereka yang memang kesehariannya bergelut dengan komputer yang melek dengan internet.
Kalau mau dihitung, pengguna internet di Indonesia hanya sekitar 25 juta orang sampai akhir 2007 lalu (www.apjii.or.id). Persentasenya tidak seberapa dibanding Amerika Serikat yang pengguna internetnya sudah hampir setengah populasinya.
Apalagi tingkat pendidikan kebanyakan masyarakat di sana berbeda dengan Indonesia. Mereka pun lebih aktif dalam berinteraksi sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dan lebih “hidup”. Terlebih kebanyakan situs sekarang dibuat dengan model internet Web 2.0 yang bisa menyajikan informasi dua arah. Masyarakat bisa berdiskusi dan memberi komentar baik atau buruk.
Berbeda dengan di Indonesia, karena kebanyakan pengguna internet adalah anak-anak muda dibanding orang tua, mereka pun banyak yang memanfaatkan internet hanya untuk chatting atau bermain game online. Dari pada membuka situs partai politik, mereka lebih memilih chatting dengan temannya di dunia maya atau bermain Ragnarok.
Dengan begitu, populasi pengguna internet pun semakin menurun dan kemungkinan tersebarnya informasi dari situs partai politik pun melorot. Tinggal pengguna yang hobi surfing internet saja yang memiliki kemungkinan melihat retorika situs partai politik.
Belum lagi kalau situs-situs partai politik tersebut tidak dikelola dengan profesional. Entah yang masih dalam tahap under construction atau terdapat fitur-fitur yang tidak berfungsi. Kian malas masyarakat berlama-lama di situs partai politik.
Makanya, selain persiapan konten yang mampu “menyihir” opini masyarakat, partai politik juga harus menyiapkan infrastruktur dan sumber daya teknologi informasi yang mumpuni untuk masuk dalam kampanye online. Bukan hanya asal membuat situs atau jejaring sosial online.
Meski begitu, bukan haram namanya kalau partai politik memiliki situs. Sebagai sebuah media dalam berkampanye, tentunya sah-sah saja. Namun, buat di Indonesia sepertinya hal tersebut masih merupakan embrio cara berkampanye yang efektif.
Bukan saja tidak menyentuh masyarakat akar rumput, tapi internet masih merupakan “barang mahal” di Indonesia. Terlebih lagi kondisi ekonomi masyarakat sekarang ini masih terguncang dengan kenaikan harga BBM dan segala macam kebutuhan hidup.
Masyarakat kebanyakan akan lebih memilih melihat kampanye gratis dibanding harus menyewa sambungan internet di Warnet atau berlangganan koneksi. Ditambah lagi karena budaya berinternet memang masih belum populer di Indonesia.
Lain soal buat kader-kader partai politik. Mereka malah semakin terbantu dengan adanya internet. Koordinasi di antara anggota akan semakin cepat dan efektif. Apalagi buat mereka yang berada di luar pulau.
Pertarungan keras pun akan mengiringi kampanye partai politik melalui internet. Sifat komunikasi dua arah yang dimiliki internet seperti pisau bermata dua. Bisa mendukung, bisa pula mendorong jatuh.
Dalam dunia maya, setiap orang bisa saja memiliki pendapat yang berbeda. Berkata apa saja, bahkan menulis perkataan “jorok” sekali pun. Mendapat simpati publik melalui internet tidak semudah membagikan sembako atau money politic.
Bila kedua hal di atas, memang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga doktrin-doktrin politik pun akan mudah diserap oleh yang menerimanya. Sedangkan melalui internet, murni intelektual partai politik dalam memengaruhi opini pengguna internet untuk mendukung partainya saat Pemilu nanti.
Sekali lagi, internet belum menjadi budaya pop di masyarakat Indonesia kebanyakan. Penetrasinya hanya sampai pada mereka yang berada di perkotaan di mana jaringan koneksi internet sudah tersebar.
Apa gunanya kampanye online kalau memang tidak ada yang melihat. Akrabkan saja masyarakat dengan budaya yang dekat dengannya. Menggelar pentas dangdut seperti disebutkan di atas, misalnya. Tapi, bila itu pilihannya, tokoh politik yang akan naik panggung, harus mengambil kelas vokal dulu. Biar suaranya merdu, semerdu janji-janji kampanye.
* Redaktur Pelaksana Majalah AdInfo
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
14.19
0
komentar
Label: Kolom
Senin
Investasi dan Peluang Bisnis Digital Printing
Kecanggihan teknologi turut berpengaruh terhadap perkembangan industri cetak-mencetak. Dengan hadirnya bermacam mesin cetak digital yang dapat bekerja cepat, digital printing memiliki prospek yang cerah sebagai sebuah industri. Peluang usaha digital printing terbuka luas, karena pasarnya yang begitu besar.
Memilih digital printing sebagai usaha adalah keputusan yang tepat. Meski saat ini belum begitu booming, diprediksi oleh banyak kalangan, bisnis ini akan berhasil dalam waktu dekat.
Kebutuhan akan berpromosi menjadi salah satu alasan mengapa digital printing bakal sukses. Tak usah jauh-jauh, seperti yang kita ketahui, di kawasan Serpong, Karawaci, dan Tangerang banyak usaha baru bermunculan. Meski banyak didominasi oleh kalangan usaha kecil dan menengah, tetap saja perusahaan-perusahaan seperti itu butuh promosi.
Promosi yang dimaksud, dalam konteks digital printing, bisa saja berbentuk ketersediaan barang-barang promosi seperti brosur, spanduk, poster, atau banner, dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut dibutuhkan untuk memperkenalkan produk dan jasa yang disediakan oleh perusahaan tersebut.
Selain produk promosi, harga dari sebuah layanan digital printing juga terbilang cukup murah. Sebagai contoh, saat ini, untuk membuat banner, ada yang satu meternya dihargai Rp 30 ribu. Mundur ke belakang, empat atau lima tahun lalu, harga itu bisa lebih mahal lebih dari tiga kali lipatnya.
Kenapa harga sekarang lebih murah? Pertanyaan itu mungkin muncul di benak Anda. Tapi dari jawaban para pebisnis digital printing, sekarang ini mencari alat dan bahan baku cetak digital bukan lagi perkara yang sulit, berbeda dengan masa-masa sebelumnya tadi.
Tak hanya banyak penyedia mesin dan bahan baku, pilihan kualitas mesin dan bahan baku digital printing juga cukup beragam. Ada pilihan murah dengan kualitas yang agak kurang bagus, dan ada pula pilihan mahal untuk ukuran kualitas yang prima.
Bisnis digital printing sendiri, boleh dibilang butuh investasi yang agak besar. Maklum, harga mesin printing kebanyakan berada di angka puluhan juta. Itu baru mesin printing, belum untuk peralatan dan fasilitas lainnya seperti komputer, tenaga kerja, atau tempat usaha.
Pun demikian, bisnis digital printing boleh dibaratkan sebagai bisnis mencetak uang. Semakin banyak produk printing yang dibuat, makin banyak pula keuntungan yang diraih. Dari beberapa pengusaha digital printing yang ditemui AdInfo, sebagian dari mereka memiliki mesin dengan proses yang bertahap. Pengadaan mesin didanai dengan uang hasil keuntungan. Dari situ, bisa dibilang bisnis digital printing adalah salah satu bisnis yang perputaran uangnya berlangsung dengan cepat.
Dari komunitas, pertumbuhan bisnis digital printing mulai berlari kencang. Dalam satu atau dua tahun terakhir, muncul beberapa gerai digital printing yang menghadirkan mesin-mesin printing berteknologi tinggi dalam jumlah banyak. Banyaknya gerai digital printing tersebut tentunya makin memberi banyak pilihan kepada masyarakat yang ingin menggunakan jasa dgital printing.
Melihat kondisi pasar digital printing yang menggairahkan, rasanya masih ada kesempatan bagi Anda untuk memulai bisnis ini. Tentu saja dengan catatan Anda harus punya kemampuan teknis dan manajerial untuk bisa menjalankan usaha ini.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.05
0
komentar
Label: Kolom
Sabtu
Pembiayaan Kesehatan dan Kenaikan Harga BBM / Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA
Dalam keadaan ekonomi yang lagi carut marut ini tampaknya masyarakat harus menyikapi dengan tepat. Sikap cerdas yang harus dilakukan adalah berpola pikir dan pola tindak ekonomis untuk menyikapinya. Strategi yang paling sederhana adalah melakukan penghematan di segala bidang, termasuk di bidang kesehatan.
“Kesehatan adalah mahal harganya”, ungkapan tersebut terasa sangat tepat di saat ekonomi Indonesia yang lagi mendapat cobaan ini. Bayangkan untuk mengeluarkan biaya jasa dokter, khususnya dokter spesialis masih belum terjangkau oleh sebagian masyarakat. Belum lagi harga obat yang cukup mahal dan harganya pasti akan semakin menggila.
Ditambah lagi dengan beban biaya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan patologis dan pemeriksaan penunjang lainnya akan semakin tidak terjangkau. Biaya akan semakin melangit bila pasien divonis rawat inap atau operasi.
Perekonomian Indonesia terguncang akibat kenaikan harga BBM ditambah lagi dengan masalah perekonomian global yang diwarnai kenaikan harga komoditas dan resesi ekonomi dunia. Beban ekonomi yang sangat berat secara bersamaan inilah juga membuat beban yang sangat menyakitkan bagi masyarakat. Tampaknya masyarakat Indonesia terpaksa harus menelan pil pahit fenomena alam ini tanpa punya daya untuk menolaknya.
Adalah wajar bagi seorang manusia akan tercabik emosi, rasa amarah, kesal dan apriori terhadap kebijaksanaan pemerintah dalam menaikkan harga BBM. Secara tidak disadari hal itu juga merupakan pemborosan emosi dan hanya menambah beban psikologis.
Beban psikologis ini tidak diasadari akan menimbulkan masalah baru bagi kehidupan melebihi pengaruh langsung kenaikkan harga BBM itu sendiri. Keterlibatan konflik kontroversi pro kontra kenaikan harga BBM, tidak akan berujung solusi. Konfrontasi politik dan sosial tanpa pemikirang jernih akan menimbulkan anarkisme, pelanggaran etika dan aturan hukum yang ada, Perilaku ini akan menimbulkan ongkos sosial politik yang tidak ringan melebihi pengaruh kenaikkan harga BBM itu sendiri.
Jalan terbaik dalam menyikapi beban psikologis ini adalah melakukan tindakan mawas diri, berpikiran jernih dan positif. Secara sadar manusia harus menerima fakta dan fenomena alam bahwa sumber energi bumi akan berkurang dan akan semakin mahal.
Meskipun sulit, secara jangka panjang manusia harus berinovasi dalam bertehnologi untuk menyikapinya. Jangka pendek tindakan logis yang dapat dilakukan adalah melakukan tindakan mawas diri dalam mengantisipasi terjadinya kenaikkan berbagai harga barang.
Mawas diri itu adalah melakukan pengkajian ulang berbagai perilaku hidup boros dan tidak efisien yang selama ini dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini setiap orang pasti akan melakukan kalkulasi ekonomi yang sangat cermat dalam setiap rupiah yang dikeluarkan. Prioritas pun harus disusun dengan teliti, berdasarkan kebutuhan pokok, kebutuhan tambahan atau kebutuhan konsumtif. Tidak terkecuali di bidang kesehatan, secara tidak disadari selama ini dalam kehidupan sehari-hari terjadi pemborosan dalam pembiayaan kesehatan.
Pemborosan Masyarakat
Menurut Survey Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2004, sumber dana pengeluaran biaya kesehatan 86% berasal dari penghasilan ekonomi keluarga. Sedangkan sisanya berasal dari asuransi, instansi tempat bekerja, puskesmas atau jaminan kesehatan bagi penduduk tidak mampu. Pemborosan di bidang kesehatan dapat dilakukan oleh masyarakat atau kalangan medis sebagai penyelenggara pelayanan medis.
Dalam masyarakat perilaku penghematan yang bisa ditekan adalah pola konsumsi vitamin atau suplemen, perilaku berobat ke luar negeri, terapi alternatif yang unconvensional dan kebiasaan sakit ringan harus selalu ke dokter.
Masyarakat seharusnya dapat menghemat pengeluaran biaya kesehatan, khususnya dalam pengeluaran biaya pembelian vitamin atau bahan nutrisi lain. Secara medis sebenarnya dalam kondisi tubuh sehat dan tercukupi kebutuhan nutrisi melalui makanan yang bergizi setiap harinya kebutuhan nutrisi tambahan berupa vitamin dan suplemen tidak terlalu penting.
Konsumsi vitamin dan suplemen mutrisi merupakan potensi bisnis yang luar biasa di masyarakat. Bagi perusahaan multi nasional atau lokal bahkan secara individu banyak masyarakat yang terlibat dalam bisnis Multi Level Marketing berlomba mengeruk rupiah dalam bisnis menggiurkan ini.
Persaingan bisnis yang tidak sehat akhirnya tejadi. Banyak masyarakat yang terbuai rayuan maut kehebatan vitamin atau suplemen nutrisi yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Latar belakang yang tidak ilmiah dalam indikasi penggunaan vitamin atau suplemen nutrisi ini akhirnya mengakibatkan pemborosan dalam pengeluaran biaya kesehatan.
Masyarakat harus mengetahui kapan harus berobat ke dokter. Kebiasaan sakit pilek dan batuk ringan harus segera ke dokter mungkin bisa dikurangi. Juga sangat penting harus tahu kapan ke dokter umum atau harus berobat ke dokter spesialis.
Pilihan jenis rumah sakit pun harus jadi pertimbangan yang tak kalah penting, mulai dari rumah sakit pemerintah atau rumah sakit yang paling megah. Biaya tinggi kesehatan tidak harus mencerminkan hasil yang optimal. Penggunaan terapi alternatif yang “unconvensional” dan tidak terbukti secara ilmiah ternyata terbukti hanya menimbulkan “lost cost” dalam pembiayaan pengobatan.
Perilaku berobat ke luar negeri harus lebih dipertimbangkan. Ternyata sebagian besar indikasi berobat ke luar negeri bukan karena keterbatasan sarana medis atau kopetensi dokter. Latar belakang berobat ke luar negeri pada umumnya tampaknya hanya masalah gengsi, ketidaktahuan atau masalah komunikasi antara dokter dan pasien.
Potensi biaya tinggi
Pengeluaran di bidang kesehatan pun harus dibuat secara cermat dengan perhitungan yang tepat. Bila ditinjau dari segi medis sebenarnya banyak hal yang masih bisa dilakukan penghematan atau pengurangan biaya tinggi dalam setiap transaksi pelayanan medis. Upaya ini harus melibatkan kerjasama dan komunikasi yang baik antara pasien sebagai pengguna jasa medis dan dokter atau rumah sakit sebagai penyedia jasa medis.
Pasien sebagai pengguna jasa medis mempunyai hak untuk mengetahui rencana pengobatan, maksud dan tujuan setiap jenis pengobatan atau tindakan medis. Selain menyangkut keselamatan atau kesehatan pasien juga sangat berkaitan dengan pertimbangan biaya.
Dokter atau Rumah Sakit sebagai penyedia layanan jasa medis juga mempunyai hak dan kewajiban terhadap pasiennya. Hak yang dimiliki seorang dokter adalah menentukan setiap jenis pengobatan atau tindakan medis secara mandiri tanpa intervensi atau pengaruh pihak tertentu. Tindakan ini harus berdasarkan latar belakang medis yang harus disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan penderita dengan mengutamakan kepentingan dan kesembuhan pasien.
Pasien yang kurang memahami sisi medis dengan baik, harus mengetahui potensi biaya tinggi yang akan dihadapi selama dalam proses pengobatan. Dokter juga harus mempertimbangkan setiap rencana pengobatan dan tindakan medis dengan menjauhkan potensi biaya tinggi pengobatan terhadap pasiennya. Potensi biaya tinggi pengobatan tersebut dapat terjadi dalam cara pemilihan jasa layanan medis, pengobatan atau tindakan medis.
Potensi lain yang beresiko terjadi biaya tinggi adalah pemilihan jenis obat. Obat generik tampaknya harus jadi pertimbangan utama. Promosi dan informasi yang benar tentang efektifitas dan keampuhan obat generik harus didukung oleh pihak dokter dan rumah sakit.
Pemakaian antibiotika merupakan salah satu jenis potensi biaya tinggi yang dihadapi pasien. Ironisnya banyak penelitian dan kajian ilmiah yang menunjukkan bahwa pemakaian antibiotika semakin jauh dari indikasi yang tepat. Misalnya, sakit flu atau ingus warna kuning ataun hijau harus diberi harus antibiotika yang canggih dan mahal.
Sayangnya asumsi ini diterima tidak benar oleh pasien, bahwa bila tanpa antibiotika penyakitnya akan lebih lama sembuh. Budaya salah kaprah ini mengakibatkan fenomena pemberian antibiotika irasional dalam masyarakat.
Biaya tinggi lain yang dihadapi pasien adalah biaya rawat inap di rumah sakit. Potensi awal yang dihadapi pasien adalah keputusan perlunya rawat inap. Tampaknya semakin banyak keluhan pasien terungkap bahwa dokter terlalu cepat mengambil keputusan untuk merawat pasien.
Untuk mengurang resiko biaya tinggi sebaiknya indikasi rawat inap harus lebih cermat dan selektif diberikan terhadap pasien. “Gejala tifus” adalah merupakan diagnosis kontroversial yang sering menjadi alasan rawat inap. Setelah pasien divonis rawat inap, lebih banyak lagi resiko biaya tinggi yang dihadapi seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan lainnya.
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya merupakan biaya sangat tinggi yang akan dihadapi pasien. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan laboratorium, radiologis, patologis dan pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan darah sangat bervariasi jenis dan kepentingan medisnya. Sedangkan pemeriksaan radiologis seperti foto rontgen, ultrasonografi, CT Scan, MRI dan sebagainya.
Dokter sebaiknya sangat selektif untuk menentukan indikasi dan jenis pemeriksaan tambahan yang harus dilakukan terhadap pasiennya. Kalaupun harus melakukan pemeriksaan laboratorium, memang harus diperlukan dan demi kepentingan pengobatan. Sebenarnya, dengan melakukan anamnesa (interview) riwayat penyakit pasien yang lengkap serta melakukan pemeriksaan fisik yang cermat secara, medis 75% hingga 80% diagnosis penyakit bisa ditegakkan.
Potensi terbesar untuk terjadinya biaya tinggi pengobatan adalah tindakan medis operasi. Selayaknya dokter memberikan vonis operasi setelah melakukan evaluasi ilmiah secara cermat dan teliti. Hal ini dilakukan setelah upaya pengobatan atau tindakan medis lain memang tidak memungkinkan.
Hak Pasien
Pasien sebagai konsumen aktif jasa kesehatan mempunya hak yang harus diperhatikan oleh dokter atau rumah sakit. Hak utama yang dimiliki pasien adalah harus mengetahui secara jelas dan lengkap rencana pengobatan, jenis serta tujuan pengobatan dan tindakan yang akan diberikan dokter kepada pasiennya.
Selain itu pasien harus mengetahui terlebih dahulu perkiraan biaya obat-obatan, pemeriksaan laboratorium atau tindakan medis lainnya. Bila biaya tersebut dirasakan memberatkan, sebaiknya pasien mengkomunikasikannnya dengan terbuka dan jujur kepada dokter. Apakah pengobatan, pemeriksaan atau tindakan itu mutlak diperlukan. Apakah tidak ada upaya lain atau sementara bisa ditangguhkan.
Hak penting lain yang dipunyai pasien adalah hak mendapatkan pendapat kedua (second opinion) dari dokter lainnya. Untuk menghindari biaya tinggi, pasien tidak usah ragu untuk mendapatkan “second opinion” tersebut.
Memang biaya yang dikeluarkan akan menjadi banyak, tetapi paling tidak bermanfaat untuk mengurangi kemungkinan biaya lebih besar lagi yang akan dialaminya. Misalnya, pasien sudah divonis operasi caesar atau operasi usus buntu tidak ada salahnya melakukan masukan pendapat dokter lain.
Dalam melakukan “second opinion” tersebut, sebaiknya dilakukan terhadap dokter yang sama kompetensinya. Misalnya, tindakan operasi caesar harus minta “second opinion” kepada sesama dokter kandungan bukan ke dokter umum. Atau, bila pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan dokter sangat banyak dan mahal, tidak ada salahnya minta pendapat ke dokter lainnya.
Sebagai penyedia jasa, profesionalitas dokter sangat menentukan dalam mengurangi biaya tinggi pengobatan. Ilmu dan tehnologi kedokteran atau kesehatan berkembang demikian pesat. Hal ini harus diikuti oleh para dokter di Indonesia, baik melalui pendidikan tambahan berkala. Keterbelakangan serta ketinggalan dalam informasi dan pengetahuan seorang dokter akan menimbulkan biaya tinggi yang akan diterima pasien.
Beberapa pakar kedokteran terdahulu berpendapat profesi dokter adalah seni. Jadi tidak perlu heran bila satu dokter dengan dokter yang lain kadang berbeda dalam pola penanganan penderita. Meskipun kapasitas ilmu yang dimiliki hampir sama, tetapi kadang pola pikir, pendekatan diagnosis, logika dan terapan ilmiahnya sedikit berbeda. Tetapi apapun perbedaan tersebut, dokter adalah profesi yang luhur.
Dokter sebagai tenaga profesional yang sangat bersentuhan dengan nilai kemanusiaan, harus memperhatikan nila-nilai luhur profesi. Dalam melakukan pengobatan atau tindakan medis tidak hanya mempertimbangkan sisi medis, tapi harus mengutamakan kepentingan pasien khususnya pertimbangan ekonomi.
Beban ini harus diemban dokter dalam pengabdiannya kepada masyarakat khususnya dalam menghadapi beban ekonomi saat ini. Bila bepolapikir ilmiah dan cerdas ternyata untuk sehat tidak selalu harus mahal. Biaya tinggi pengobatan tidak harus selalu mencerminkan hasil yang optimal dalam layanan medis. Bila hal ini dilakukan banyak rupiah yang hilang percuma bisa dihindarkan.(www.pdpersi.co.id)
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
11.40
0
komentar
Label: Kolom
Rabu
Industri Properti Akan Diterpa Badai
Melihat tingginya permintaan pasar, banyak kalangan menilai pasar properti di Indonesia masih akan bertumbuh pada 2008, terutama untuk produk hunian dan komersial. Namun melihat situasi yang sedang berkembang saat ini, terutama masalah harga bahan bakar minyak (BBM) yang melambung tinggi, dikhawatirkan bisnis properti akan kembali terperosok seperti masa krisis 10 tahun lalu.
Hingga bulan Mei lalu, bisnis properti memang sedang damai dan tengah merasakan manisnya meraih kejayaan. Tapi bagaimana dengan bulan Juni ini, ketika pemerintah memutuskan untuk menaikan harga BBM?
BBM merupakan salah satu elemen penting dari kehidupan manusia, termasuk bisnis properti. Secara umum, rencana kenaikan harga BBM yang diperkirakan mencapai 30 persen merupakan pukulan telak bagi sektor properti. Pasalnya, kenaikan harga BBM akan berpengaruh kepada harga material bangunan.
Dengan naiknya harga material bangunan, hampir bisa dipastikan harga properti juga akan ikut naik. Dan menaikan harga rumah di saat daya beli masyarakat merosot tajam bukan pilihan bijak, tapi kalau tak dinaikan kerugian yang akan ditanggung pengembang sangat besar.
Kenaikan harga BBM tahun ini memang bukan untuk kali pertama selama masa Pemerintahan Susilo Bambang Yodhoyono (SBY). Tercatat, sejak terpilih tahun 2004 lalu, Pemerintahan SBY sudah menaikan harga BBM sebanyak dua kali.
Meski sudah ‘terbiasa’ dengan kenaikan harga BBM, tetap saja para pelaku industri properti merasa cemas. Jika tidak diantisipasi dengan baik, besar kemungkin para pelaku industri properti bisa gulung tikar, karena merosotnya daya beli masyarakat.
Naiknya harga BBM sudah pasti tidak cuma mempengaruhi bisnis properti, bisnis yang lain juga akan kena imbasnya. Masyarakat yang semakin kesulitan tentu akan semakin selektif untuk mengeluarkan uang.
Memajukan industri properti tidak bisa hanya dilakukan oleh para pemainnya saja. Industri properti juga butuh bantuan dan kerjasama dari pihak lain seperti pemerintah dan perbankan.
Bagi pemerintah sendiri, menaikan harga BBM memang bukan langkah yang pro-rakyat. Tapi, kenaikan harga BBM bukanlah kemauan pemerintah. Sepenuhnya, kenaikan ini dipicu oleh semakin melambungnya harga minyak dunia.
Para pelaku bisnis termasuk bisnis properti, saat ini pastinya sedang memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi kenaikan harga BBM. Pun demikian, dari sejumlah pelaku industri properti yang dijumpai AdInfo, mereka optimis masa krisis akibat kenaikan harga BBM tidak akan berlangsung lama. Selang beberapa waktu, mereka yakin industri properti akan kembali pulih.
Cepat atau lambatnya kemampuan bisnis properti untuk kembali bangkit juga turut dipengaruhi oleh kesiapan masyarakat menerima kenaikan harga BBM tadi. Jika masyarakat sudah siap, dalam waktu singkat, kenaikan harga BBM kali ini tidak akan lagi jadi perbincangan. Tapi bagaimana jika masyarakat tidak siap? Bencana akan melanda bisnis properti dalam negeri.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
09.10
0
komentar
Label: Kolom
Jumat
Bisnis Properti Kembali Bergairah juga Karena Broker
Broker atau agen properti, tampaknya memiliki peran yang sangat besar dalam menggairahkan pengembangn bisnis industri properti di tanah air. Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan sektor properti nasional banyak didorong oleh partisipasi para broker yang jumlahnya ratusan.
Ketika ada pembangunan produk properti baru baik rumah toko (ruko), apartemen, rumah, gudang, dan lain-lain, dengan segera kita bisa menyaksikan adanya papan nama bertuliskan pesan singkat dijual berikut nama perusahaan yang bisa dihubungi. Semua itu dimaksudkan untuk mempermudah atau mendorong penjualan properti yang dipasarkan oleh pemiliknya.
Dan jika menilik beberapa nama perusahaan agen properti besar di Indonesia maka dengan mudah kita akan mengenal nama ERA Indonesia, Century21, Ray White, Raine & Horne, LJ Hooker, atau Caldwell Banker, sebagai pemain-pemain besar di bisnis ini. Para broker di atas diketahui berafiliasi dengan mitra di luar negeri sebagai broker franchise.
Kendati demikian, dalam 3 atau 4 tahun terakhir ini, perusahaan agen properti waralaba import tersebut sepertinya mulai mendapat saingan dari perusahaan broker lokal. Seperti di komunitas kita, beberapa perusahaan agen properti lokal sudah mulai bermunculan dan meramaikan persaingan di bisnis jasa properti ini.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) yang mewadahi para broker memiliki anggota kurang lebih 200 perusahaan. Namun di luar itu masih banyak lagi perusahaan bahkan individu yang mengais rejeki di bisnis ini.
Melihat pemain yang sedemikian banyak tak salah jika dikatakan persaingan di bisnis agen properti sangatlah ketat. Apalagi bisnis ini adalah bisnis jasa di mana faktor manusia paling memegang peranan. Begitu juga di seputaran BSD, Serpong, dan Karawaci. Keberadaan agen properti sangat banyak jumlahnya. Tapi, bagi para pelaku bisnis ini, selama persaingan itu berjalan dengan sehat, hal itu bukan masalah yang berarti.
Ibarat pepatah ada gula ada semut, semakin banyak yang mengais rejeki di satu bisnis maka dengan mudah disimpulkan bisnis tersebut adalah bisnis yang menggiurkan. Begitu pun dalam bisnis properti, ada pengembang yang membangun produk properti, dan ada agen properti yang memasarkan produk tersebut.
Melihat ketatnya persaingan, tak heran bila para broker berupaya keras melakukan kiat-kiat khusus untuk menjaring klien. Menyadari kesuksesan perusahaan banyak ditentukan oleh tenaga pemasarannya maka tidak segan-segan berbagai perusahaan agen properti tadi mengucurkan dana untuk ‘mendidik’ tenaga pemasarannya agar menjadi penjual yang handal dan tangguh.
Geliat pasar properti Indonesia tahun 2008 dan tahun-tahun mendatang yang ditunjukkan dengan pembangunan mal, ruko, dan jenis properti lain, jelas merupakan berita menggembirakan bagi para broker. Baik broker franchise maupun lokal, patut mengantisipasinya dengan memperkuat armada dan jasa layanan.
Selain itu, kini masyarakat atau konsumen mengharapkan peningkatan pemberian jasa dan layanan dari para broker. Sebagai pemberi jasa, selayaknya para agen memberikan konsultasi dan nasihat atau saran yang mendidik bagi konsumen.
Menjalani bisnis sekaligus profesi sebagai agen properti, kuncinya adalah profesional. Itu yang utama. Dengan begitu konsumen benar-benar mendapat pelayanan profesional dari seorang agen properti.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
15.10
0
komentar
Label: Kolom
Minggu
Salon Kecantikan Tak Sekedar Menjual Jasa
Masyarakat modern di kota metropolitan terkenal dengan tingkat kepeduliannya akan penampilan. Tak heran bila salon-salon kecantikan dapat ditemukan di hampir setiap penjuru kota. Memang bisnis salon kecantikan beberapa tahun terakhir berkembang di mana-mana, hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Karena untuk tampil cantik sudah menjadi idaman bagi semua wanita.
Di komunitas ini, banyak sekali salon-salon kecantikan yang menjanjikan perubahan kepada konsumennya. Sebuah salon kecantikan tidak hanya membutuhkan tenaga yang profesional, tapi juga produk yang memiliki kualitas yang diakui.
Sebagian besar konsumen selalu tergiur dengan promo dan iming-iming harga yang murah, padahal harga yang murah tersebut sangat tidak terjamin hasilnya, alih-alih bukan kecantikan yang didapat melainkan berbagai efek negatif dari produk kecantikan yang murah tersebut, alergi pada kulit misalnya.
Ternyata melakoni bisnis salon kecantikan tidak semudah yang dibayangkan. Pasalnya banyak hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan usaha salon kecantikan, mulai dari lokasi, tenaga kerja, hingga peralatan dan tarif jasa.
Bicara dalam cakupan bisnis, salon bukan hanya tempat untuk mempercantik diri, tapi salon juga harus terkesan mewah. Sebab, kalau tidak mau ketinggalan, salon kecantikan harus mengikuti kemajuan jaman. Kalaupun perlu, peralatan yang digunakan wajib berteknologi komputer.
Bisnis salon terbilang bisnis yang sangat menjanjikan dan masih terbuka luas. Untuk ke depannya, bisnis salon memliki prospek besar untuk mendatangkan keuntungan.
Pun demikian, bisnis salon juga tak bisa dijalankan dengan main-main. Jika dikelola dengan profesional, bisnis salon kecantikan memang cukup menggiurkan. Namun harus diakui tak semua pebisnis salon profesional, sehingga banyak salon yang sepi konsumen.
Lebih dari itu, saat ini dapat dibilang masuk salon bagi sebagian besar wanita dan pria telah menjadi kebutuhan penting. Betapa tidak, untuk tampil percaya diri dan sehat tentu mereka akan memilih salon profesional, dan cenderung tak mempersoalkan berapa biaya yang harus dikeluarkan asal pelayanan yang diperoleh memuaskan.
Peluang sekaligus tantangan ini, bagi pebisnis salon tentu bisa menjadi cambuk untuk terus memperbaharui pelayanan, sehingga tetap memiliki kekhasan tersendiri, guna bisa bersaing dengan pebisnis salon lainnya.
Sebagian pebisnis mungkin sudah ada yang tanggap tentang persaingan yang harus mereka hadapi. Tapi, di balik itu, banyak salon-salon kecantikan yang tak profesional. Mereka membuka usaha salon terkesan hanya ikut-ikutan saja, dan itu terbukti dari kualitas pelayanan, peralatan yang tak memadai, juga pengetahuan promosi yang sangat rendah.
Fenomena salon-salon mahal juga muncul ke kepermukaan, padahal jika dicermati harga mahal semestinya diukur dari kualitas pelayanan. Agaknya pertanda mengenai strategi atau ‘’permainan’’ sebagian pebisnis salon dalam menciptakan image mahal itu berkualitas, cukup bisa dibilang masuk akal meskipun sebenarnya pelayanan yang diberikan biasa-biasa saja.
Biaya mahal boleh jadi untuk menggertak sebagian konsumen, jika di sebuah salon menyediakan pelayanan yang profesional. Tapi, jangan kira konsumen tak selektif soal itu.
Mereka akan mendatangi terus salah satu salon, bukan karena biaya mahal. Tapi bukti dari pelayanan itu berkualitas. Ini akan tetap dituntut konsumen sehingga mana salon yang mampu menyediakan pelayanan berkualitas, akan tetap eksis dalam persaingan.
Terlepas dari permainan citra bisnis salon, sebenarnya bagi pelakunya yang cukup bergengsi ini tak lain merupakan wujud dari kemampuan mereka memanfaatkan peluang yang ada. Daripada pasif dan tidak inovatif, berbisnis salon kecantikan tentu takkan ada untungnya.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
10.47
2
komentar
Label: Kolom
Kamis
Bisnis Naik Turun yang Punya Pelanggan Setia
Lokasi turut menentukan sukses atau tidaknya sebuah usaha. Demikian pula dengan bisnis mainan anak-anak. Bila bisnis ini dibuat di tempat yang strategis dan ramai dikunjungi orang, maka akan memberikan hasil yang lumayan. Oleh karenanya, ternyata bisnis mainan anak-anak masih mempunyai prospek yang cukup bagus.
Prospek bisnis mainan cukup menjanjikan, karena yang namanya mainan anak-anak selalu dibutuhkan sepanjang ada anak-anak di dunia ini. Tinggal bagaimana memilih mainan apa yang cocok untuk dibisniskan dan tentu saja sedikit melihat kondisi pasar setempat.
Usaha apapun pasti punya risiko. Begitupun dengan bisnis mainan anak. Kalau boleh memilih, hendaknya memilih risiko yang lebih kecil dibanding mainan lain. Resiko itu macam-macam, ada yang berupa keselamatan pada anak-anak, risiko kerugian, risiko kerusakan, dan sebagainya.
Bisnis mainan anak-anak memang sebaiknya dibuka di tempat strategis ataupun tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan modern. Karena biasanya orang tua sering membawa anak-anak mereka berbelanja sambil makan dan bermain. Karena itu kesempatan berbisnis mainan anak-anak di pusat perbelanjaan modern cukup terbuka.
Jika mengurutkan berbagai barang kebutuhan yang harus dibeli oleh sebuah keluarga, sudah barang tentu mainan tidak akan berada di posisi teratas. Ini berarti mainan tidak termasuk barang kebutuhan pokok. Mainan hanyalah kebutuhan sekunder. Kalau ada uang lebih, barulah mainan untuk anak-anak dibeli.
Beralih ke hal lain, mengikuti trend harga barang-barang sekarang ini, mainan juga tidak lagi seharga ribuan rupiah. Paling murah, uang puluhan ribu harus dikeluarkan untuk mendapat sebuah mainan yang apik untuk si kecil.
Tingginya biaya produksi tentu saja memicu mahalnya harga mainan. Belum lagi jika bicara tentang mainan-mainan yang asalnya dari luar negeri. Harga mainan import, kebanyakan lebih mahal dari mainan lokal. Jika tak pandai memilih mainan yang akan dibeli, bisa jadi dompet ini akan kebobolan.
Bisnis mainan anak juga termasuk dalam bisnis yang naik turun. Berdagang mainan ada waktu ramai dan sepinya. Bermain logika sedikit, di awal tahun, biasanya penjualan mainan mengalami masa emas. Banyak orang membeli mainan di masa ini. Tapi, menjelang pertengahan tahun atau saat masuk tahun ajaran baru, bisnis mainan menjadi sepi. Ternyata, banyak orang tua yang mengalokasikan dananya untuk kepentingan pendidikan anak-anaknya.
Untuk mengantisipasi, tampaknya sudah menjadi keharusan bahwa seorang pengusaha bisnis mainan anak wajib mengerti trend pasar. Artinya, pengusaha mesti aktif menilai perkembangan penjualan item-item mainan dan segera melakukan perubahan jika diperlukan. Tentu saja hal ini harus dilakukan guna meningkatkan produktifitas usahanya.
Biasanya dari data penjualan barang bisa diketahui mana barang yang laku keras, laku, lumayan laku, atau tidak laku. Dari penilaian terhadap data penjualan barang, pelaku usaha bisa menentukan masa edar setiap item barang dan memperkirakan mainan yang sedang trend. Kalau sudah dua bulan mainan tidak laku-laku juga, lebih baik dijual murah saja.
Pengusaha mainan juga sebaiknya pintar-pintar memilih pemasok mainan yang baik. Selain koleksi mainan yang variatif, harga yang bersaing juga merupakan poin yang perlu dipertimbangkan. Satu lagi, percantiklah tampilan outlet. Buatlah semenarik mungkin agar anak-anak tertarik masuk ke dalam toko, begitu mata mereka melihatnya.
Sesulit apapun menjalan bisnis mainan, bisnis mainan anak akan tetap selalu ada, selama di bumi ini masih ada anak-anak. Sebab, anak-anak adalah pelanggan setia bisnis mainan. Jadi, berpikirlah positif dengan memaksimalkan bisnis mainan anak agar usaha bisa sukses.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
09.49
0
komentar
Label: Kolom
Senin
Biaya Pendidikan Tinggi, Kualitas Dijamin Pasti
Begitu banyaknya penawaran lembaga pendidikan pre school dan TK yang menjanjikan, membuat para orang tua harus tetap waspada dan bersikap kritis pada saat akan memilih lembaga pendidikan untuk putra-putrinya. Sebab tidak sedikit para pengelola lembaga serupa tidak didukung oleh SDM yang memadai. Atau bahkan mungkin fasilitas dan metode pengelolaannya kurang mendukung untuk masa-masa pertumbuhan dan perkembangan anak.
Mayoritas, biaya pendidikan di negeri ini terbilang cukup mahal. Sebut saja untuk level pendidikan pra sekolah seperti pre school dan TK, tak sedikit dari lembaga pendidikan tadi mematok biaya pendidikan hingga jutaan rupiah.
Uang tentu bukan masalah jika kualitas yang diberikan seimbang dengan mahalnya biaya. Tapi, bagi orang-orang awam seperti kita, setiap pre school atau TK rasanya sama saja, yang berbeda hanya nama dan lokasinya.
Terkadang mata ini tertipu oleh warna-warni gemerlapnya bangunan atau manisnya tutur kata seseorang. Ketika ditawarkan sebuah sekolah untuk tempat belajar anak-anak kita, kita terbuai dalam kata-kata yang belum tentu kebenarannya.
Menyikapi problematika tersebut, ada 3 aspek yang harus diperhatikan orang tua dalam memilih lembaga pendidikan pre school untuk putra-putrinya, yakni metode, fasilitas, dan SDM pengelola. Metode ataupun konsep yang digunakan harus mendukung masa-masa emas pertumbuhan anak. Metode ini idealnya disesuaikan dengan file record setiap anak dengan pola pendekatan personal pada beberapa bidang tertentu.
Cara ini bukan untuk membuat anak ekslusif, sebab konsep play group dan penitipan anak, memang bertujuan untuk melatih anak bersosialisasi dan mandiri. Tetapi untuk merekam beberapa kemungkinan perbedaan yang terjadi pada setiap anak. Untuk metode ini, cari lembaga yang benar-benar melibatkan dialog antara ahli, pengelola, dan orang tua. Sebab pendidikan usia dini tidak bisa sepenuhnya dilepas begitu saja kepada sekolah. Orang tua meskipun sibuk, harus tetap melibatkan diri dengan persoalan-persoalan anak.
Begitu juga untuk fasilitas. Pilih lembaga pendidikan yang didukung oleh sarana dan fasilitas yang dapat mendukung perkembangan motorik halus maupun motorik kasar anak. Perhatikan alat-alat permainan yang digunakan, pastikan keamanan dan keamanannya. Tidak sedikit, alat-alat permainan yang justru dapat menciderai anak, termasuk untuk peralatan tulis dan gambar.
Sekolah-sekolah yang kurang berkualitas ada kalanya kurang hati-hati memilih pensil gambar. Selain zat warna dan kandungannya berbahaya, keterlibatan guru sebagai SDM pengelola juga sangat menentukan. Jangan sampai lalai pada hal-hal kecil yang justru dapat membahayakan anak.
Para pengelola lembaga pendidikan harus benar-benar orang yang mencintai anak. Mampu berinteraksi baik dengan anak dan memerhatikan hal spesifik anak untuk anak-anak tertentu yang punya ciri khusus seperti anak yang hyper aktif ataupun pasif.
Jangan pernah memilih sekolah yang memaksakan prestasi ataupun target pada anak. Sebab cita-cita ataupun "goal" dari pendidikan usia dini (pre school) bukan pada nilai ataupun angka-angka sebagai lambang prestasi, tetapi bagaimana anak mampu bersosialisasi dan mandiri menyambut masa sekolah (TK) yang akan dijelangnya. Kalaupun ada kecakapan-kecakapan khusus yang harus diraih anak, lebih banyak pada perilaku, baik untuk aktivitas fisik halus maupun kasar.
Untuk semua syarat metode, fasilitas, dan SDM pengelola seperti itu memang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Cukup beralasan jika semua pengelola sepakat, bahwa mahal itu memang jaminan.
Diposting oleh
majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI
di
11.32
0
komentar
Label: Kolom
Minggu
Hemat, Tepat, Omset Meningkat
Setiap saat ada saja produk baru yang diluncurkan para pengusaha. Ini, mengikuti pola konsumsi masyarakat modern yang memerlukan lebih banyak jenis barang/jasa untuk kenyamanan hidupnya. Maka tak salah bila, untuk memenuhi kebutuhan produk yang diperlukan, kita biasa membuat skala prioritas. Nah, ketika membutuhkan suatu barang, apa yang pertama kali Anda pikirkan?
Masyarakat modern seperti warga Jakarta, mereka sudah terbiasa dengan pola pikir praktis. Hindari jalan yang macet, cari penjual paling dekat, biasanya sekitar rumah atau kantor. Alamiah bila sebagian besar orang memprioritaskan tempat paling dekat, dimana bisa memperoleh barang yang dibutuhkan. Perlahan-lahan jalan pikiran seperti ini, membentuk tradisi atau kebiasaan berbelanja, dus diikuti pula pembangunan ruang usaha dan pembentukan pasar. Kecil sekali kemungkinannya seseorang yang tinggal di Kelapa Gading misalnya, akan makan di restoran yang ada di Puri. Begitu pula sebaliknya, lembaga kursus yang ada di Serpong tentunya membidik pelajar di sekitar tempat usaha itu berada, sebagai segmen pasar mereka.
Antisipasi pebisnis pada umumnya adalah mendekati konsumen, dengan cara membuka cabang usaha. Maka, seperti yang banyak kita lihat, franchise/waralaba dari sebuah usaha bisa ada dimana-mana. Bahkan beberapa diantaranya ada yang berada dilokasi yang cukup berdekatan. Fenomena ini membuat ruang usaha mengikuti peta bisnis yang tidak semua orang bisa melihat dengan jelas seperti bila kita melihat peta kota. Adanya aspek usaha semacam franchise membuat pasar menjadi terkotak-kotak. Seperti sebuah pola yang mengikat dan menghubungkan tiga komponen dari sebuah pasar yang terdiri dari warga komunitas, pengusaha, serta kegiatan promosi.
Kegiatan promosi inilah yang jadi penghubung antara konsumen yang menjadi bagian dari masyarakat dan pengusaha yang menjadi pelaku produksi. Mestinya, usaha untuk menyampaikan pesan promo mengikuti format pasar yang ada, pola yang kini berkembang, yakni format pasar yang terkotak-kotak. Sebagian besar pengusaha tentu paham betul tujuan dari promosi. Tapi kadang keliru ketika melakukannya. Seperti sebuah senjata, promosi layaknya sebuah senapan laras panjang. Butuh strategi komunikasi untuk dapat mengenai obyek sasaran yang disasar.
Cara konvensional seperti dari mulut ke mulut merupakan iklan yang paling murah, kalau tidak mau dikatakan gratis, tapi efektifitasnya sangat rendah. Usaha yang lebih baik, dengan brosur dan spanduk, namun promo ini bersifat singkat dan belum tentu berbiaya rendah sekalipun pasar yang disasar warga sekitar, karena masih harus dibagi-bagikan. Maka pilihan untuk beriklan di media cetak adalah usaha membangun komunikasi yang dapat dijadikan alternatif menjalankan strategi promosi yang lebih baik. Sekalipun tampak serupa, tidak semua media cetak punya segmen pembaca yang sama contohnya media nasional dan media lokal. Untuk itu, efektifitas dan efisiensi dari pemasangan iklan, seperti mempertahankan/meningkatkan omset hingga membentuk band image harus didukung dengan menggunakan media informasi yang akurat dan punya tingkat penetrasi yang kuat dan tepat.
Jika segmen pasar yang dituju adalah pasar wilayah maka pilihan media yang akurat dan tepat adalah media komunitas. Alasan utamanya, dengan media komunitas khalayak yang disasar jauh lebih spesifik, hubungan antara pengusaha dan pembaca begitu kuat, didasarkan kesamaan tempat kediaman dan segmen pasar yang sama. Untuk itu, pastikan, komunikasi dan strategi promosi anda terlihat lebih jelas di media yang didistribusikan kepada warga, yang komunitas massa-nya sama dengan tempat usaha anda berada. Satu hal yang tak kalah penting, adalah banyak muncul media komunitas di wilayah yang sama bagai remaja yang mengikuti tren mode. Sisi positifnya bagi seorang pengusaha, ini semakin baik karena tersedia alternatif untuk memilih.
Tujuan meningkatkan omset bisa dicapai bila promosi dilakukan di media yang tepat dengan biaya iklan terjangkau. Saat ini, beberapa media komunitas yang bisa dijadikan pilihan memang tidak banyak. Karena beberapa media komunitas yang ada masih terkesan sebagai katalog belanja, suguhan rubrik tidak mewakili warga komunitasnya, bahkan ada yang tidak memiliki manajemen distribusi dan konsep yang kuat.
Maka sebelum menentukan satu dari beberapa media komunitas yang ada, tidak ada salahnya bila kita menanyakan konsep majalah tersebut. Perbandingan isi/rubrik dan iklan, pola distribusi, jumlah tiras, dan ketepatan penerbitan dari media komunitas yang bersangkutan perlu dikaji sebagai nilai lebih. Biar bagaimanapun beberapa poin yang menggambarkan konsep majalah tersebut akan berhubungan dengan strategi komunikasi dan promosi.
Kenyataan lainnya, media komunitas pada umumnya dibagikan gratis. Untuk itu, agar punya potensial buyer layaknya media nasional seperti majalah yang dijual dengan harga cukup tinggi, media komunitas harus didistribusikan secara tepat, misal dibagikan kepada keluarga menengah ke atas yang notabene punya daya beli, ruko (rumah toko) ataupun rukan (rumah kantor). Menjangkau pembaca yang berada di kelas yang sama dengan pembaca majalah nasional papan atas. Idealnya di cetak dengan oplah tidak kurang dari 15.000 eksemplar. Artinya jangkauan ini akan semakin besar karena akan dibaca oleh 15.000 keluarga bukan satu eksemplar untuk satu orang. Asumsi sebuah keluarga terdiri dari 4 (empat) anggota keluarga, iklan di media komunitas akan dilihat oleh masyarakat sebanding dengan sebaran media nasional terbesar di negeri ini untuk satu wilayah yang sama. Keputusan final kembali kepada masing-masing pengusaha, namun beriklanlah dengan hemat dan tepat hingga omset pun meningkat. (Novry Sabmen S, majalah komunitas AdInfo)
Diposting oleh
Novry Simanjuntak
di
20.36
0
komentar
Label: Kolom